10622801_10203958511702086_224313108645201396_n

Pernah menulis catatan perjalanan? Belum pernah dan ingin menulis catatan perjalanan? Bagaimanakah seharusnya menuliskan catatan perjalanan yang menarik? Karena pasti banyak yang ingin membuat dan menulis di travel blog dan menuliskannya namun belum tahu atau bingung bagaimana caranya. Maka berikut ini saya sajikan beberapa langkah memulai menulis travel blog.

Memang bagi yang belum pernah menulis catatan perjalanan akan ada sedikit kesulitan atau rasa canggung saat menulis cerita perjalanan karena belum biasa. Namun apabila sudah terbiasa sebenarnya menulis cerita perjalanan itu sangat menyenangkan dan menjadi candu. Berikut beberapa langkahnya :

1. Tentukan Gaya Tulisan Perjalanan Yang Disukai

Mulailah dengan analisa bagaimana sebenarnya gaya tulisan perjalanan yang disukai karena ada banyak sekali kategorisasi tulisan perjalanan, mulai dari jurnal, panduan perjalanan, tulisan ilmiah, novel sampai tulisan perjalanan jurnalistik. Baiknya sebelum memulai menulis travel blog tentukan dulu jenis tulisan seperti apa yang disukai karena ke depannya jenis tulisan tersebut yang akan menjadi ciri khas seorang travel blogger.

Travel_writing

Jika menyukai kronologis perjalanannya, maka mulailah dengan bercerita runtut tentang perjalanannya dari pergi sampai pulang. Jika menyukai detail-detail di perjalanan cobalah menulis dengan gaya naratif yang detail, kemudian jika ingin berbagi pada pembaca maka bisa membuat catatan berupa panduan perjalanan.

Kesalahan umum yang banyak ditemui adalah banyak penulis yang menulis tanpa tahu apa yang sebenarnya ditulis. Sehingga tidak jelas arah tulisannya seperti apa. Jadilah tulisan perjalanan yang justru tidak jelas dan membingungkan, baik si pembaca dan penulis sendiri. Ada baiknya cobalah mencari-cari terlebih dahulu seperti apa tulisan perjalanan yang disukai, baru kemudian memulailah mencoba menulis dengan gaya tulisan perjalanan yang disukai tersebut.

2. Cobalah Lebih Detail Dengan Perjalanan

Untuk memperkaya tulisan cobalah mencatat detail-detail perjalanan sampai hal terkecil sekalipun. Dengan mendokumentasikan hal-hal tersebut catatan perjalanan yang dibangun akan menjadi kaya dan penuh detail yang bermanfaat bagi pembaca.

Terkadang hal-hal terkecil justru menjadi kunci yang menjadi pembeda dengan tulisan yang lainnya. Hal-hal detail seperti ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang gemar menulis panduan perjalanan, karena pembaca akan menyukainya dan akan mengikuti informasi detail yang diberikan penulis. Tapi hal-hal detail juga disukai bagi para penulis jurnal perjalanan karena akan memberikan sudut pandang lain dalam tulisan.

1621939_10202548379049651_1316941062_n

Karena tulisan perjalanan adalah cerita tentang fakta, cobalah menulis dengan detail-detail kejadian sesungguhnya, ceritakan dengan jujur apa yang dilihat dan dirasakan. Namun cobalah objektif dengan detail tersebut, caranya adalah dengan menanyakan langsung pada orang-orang lokal tentang detail selama perjalanan tersebut.

Jangan malas untuk melakukan riset sebelum, selama dan sesudah perjalanan untuk memastikan detail perjalanan tersebut. Konfirmasikan ulang juga apakah detail tersebut memang benar-benar detail yang sesungguhnya.

3. Konsisten Dalam Menulis

Poin berikutnya adalah dengan konsisten dalam menulis. Kekonsistenan ini akan membawa penulis semakin memiliki taste dalam tulisan-tulisannya. Banyak penulis yang mungkin menyerah dalam kekonsistenan, banyak blog-blog dengan tulisan yang begitu bagus namun tiba-tiba mandek di tengah jalan.

Perlu dorongan yang kuat supaya konsisten. Blog atau catatan perjalanan yang bagus tidak hanya dinilai dari tulisannya saja, namun juga seberapa konsisten dia menulis dan konsisten berbagi. Konsisten adalah kunci bagaimana pembaca akan menyukai catatan perjalanan yang sudah dipublikasikan di blog. Dengan konsisten, pembaca akan mulai mengenal bagaimana gaya si penulis dan tentunya akan menjadi pembaca setia blog.

Consistency-trumps-intensity-quote.-One-minute-habits.

4. Isilah Dengan Foto-foto Yang Mendukung

Foto-foto yang menarik akan membangun cerita perjalanan menjadi lebih hidup. Saya banyak menemui blog dengan tulisan yang bagus namun foto-fotonya a la kadarnya dan minim sekali. Atau sebaliknya, foto bagus namun minim cerita sehingga saya sebagai pembaca tidak bisa mendapatkan detail tulisan perjalanan tersebut.

Teknik fotografi dasar pun sebenarnya sudah mendukung untuk cerita perjalanan. Jika memang merasa minder dengan hasil foto, maka belajarlah untuk memperbaiki kualitas foto. Foto terkadang juga bisa menjadi pemancing yang ampuh bagi mereka yang ingin membaca catatan perjalanan.

Jangan terlalu banyak tulisan dan minim foto, begitupun sebaliknya. Yang bagus adalah yang seimbang, per 2-3 paragraf disisipkan 1-2 foto. Jadi pembaca bisa seimbang antara membaca sekaligus merekonstruksi deskripsi catatan perjalanan tersebut dengan foto yang ditampilkan.

rp_100_6143.jpg

5. Memancing Dengan Kalimat Pembuka

Kalimat pembuka adalah penarik pembaca yang paling efektif saat menulis travel blog. Ibarat toko, kalimat pembuka adalah etalase. Etalase yang apik dan cantik tentunya akan mengundang pengunjung untuk mampir.

Ada banyak teknik untuk membuat kalimat pembuka, sementara yang umum ditemui di catatan perjalanan adalah membuat kalimat pembuka dengan deskripsi situasional saat perjalanan, seperti “Malam sudah tinggi” atau “Matahari mulai naik”.

Kalimat pembuka tersebut sudah tepat namun terkadang terasa membosankan dan agar terbebas dari gambaran yang membosankan maka perlu menambah beberapa pernak-pernik di kalimat pembuka misalnya membuka dengan pertanyaan atau membuat kalimat yang bernada persuasif, seperti “Sudahkah kalian merasakan pantai yang biru bersih?”

Terkadang perlu juga sedikit nada provokatif jika memang dirasa perlu, atau perlu juga ditambahi kalimat-kalimat yang menggugah dengan tempo yang sedikit cepat. Sebagian besar pembaca pasti menyukai cerita perjalanan yang bersemangat dan jika kalimat pembuka sudah mampu memancing pembaca maka pasti pembaca akan menikmati tulisan-tulisan berikutnya.

6. Bertanggung Jawab Terhadap Hasil Tulisan

Setelah tulisan di-publish bukan berarti semua telah usai. Bertanggung jawablah dengan isi tulisan, hal ini berarti penulis sadar akan konsekuensi yang mungkin akan timbul dari tulisan tersebut. Terbukalah untuk menerima kritik dan saran tentang tulisan karena itu berarti pembaca peduli dengan hasil tulisan di travel blog.

Menulis travel blog adalah menulis fakta-fakta di perjalanan. Usahakan jujur untuk menceritakan apa yang ditemui saat menulis travel blog, usahakan juga agar pembaca mengerti situasi yang sesungguhnya. Jangan menutup-nutupi informasi karena bisa jadi menyesatkan pembaca, usahakan juga informasi yang diberikan adalah informasi yang memang berguna.

nymph

Jika mengutip atau mengambil foto atau sumber lain cantumkan juga sumbernya di blog, menghargai karya orang lain adalah langkah awal supaya karya diri sendiri juga dihargai.

Mencantumkan prinsip-prinsip responsible traveling bisa memberikan tambahan edukasi kepada pembaca, menjadi travel blogger yang bertanggung jawab juga berarti menjadi penulis yang bisa menyebarkan semangat bertanggung jawab kepada lingkungan.

Demikian 6 langkah untuk menulis travel blog dari saya. Tips-tips di atas bisa saja diterapkan atau tidak itu kondisional tergantung bagaimana situasinya. Saya sendiri berharap ke depannya akan semakin banyak orang yang menulis travel blog dan menyebarkan semangat untuk terus melakukan perjalanan.

Jika ada yang ingin ditanyakan silakan isi kolom komentar atau silakan mention saya lewat twitter.

Tabik.

Sumber Gambar : 1 dan 2

Follow Efenerr on WordPress.com

84 KOMENTAR

  1. Thank you untuk tipsnya kak 🙂 Saya pengen bgt punya travel blog yg sukses dan bermanfaat, mungkin kakak bisa mampir dan ngasih komentar atas tulisan saya jika berkenan. Semangat! 🙂

  2. nah…ini yang kucari; panduan menulis perjalanan.
    Kesulitanku selama ini adalah :
    1.tergoda untuk menikmati perjalanan itu sendiri tanpa harus ribet dengan riset or “beban” bahwa habis jalan2 aku harus nulis.
    2. Terjebak dalam belanga genre cerpen yang ujung2nya berbelok dr urusan travel ke urusan humanis.
    Piye dong?

    • 1. Justru memang yang terpenting adalah menikmati perjalanan itu mas. Riset dan beban itu diabaikan dulu mas. Riset itu kan tidak harus mesti nanya yang serius, bisa juga sambil lewat nanya sana-sini. Kalau sudah menikmati perjalanannya pasti juga menikmati menulisnya.
      2. Ga masalah mas, genre travel writing itu kan luas. Itulah enaknya nulis perjalanan.

  3. Dah lama saya nungguin tulisan ini, tips2 bisa saya jadikan Panduan buat tulisan saya berikutnya. Klo boleh biar makin jelas, setiap yg dituliskan di atas kasih contoh dong… Biar makin jos gitu… Trimakasih

      • Malam, Mas, hehe.
        Amin, di saat kita punya passion dan semangat di dunia ini, ya ini yang kita berikan untuk memajukan pariwisata Indonesia 🙂

        Walah Mas Farchan, saya ini masih belajar, sama njenengan dan teman-teman blogger yang sudah lama terjun di dunia travel blogging. Saya sendiri masih belum puas apa yang sudah dilakukan hingga sekarang, perlu terus merasa lapar untuk mereguk ilmu bukan? 🙂

  4. apakah tetap menarik ketika membuat sebuah catatan perjalanan menjadi smacam cerita fiksi? lalu membuatnya menjadi catatan diary dengan menceritakan orang2 disampinnya? kapan2 kalo bisa ketemu ajari mbuat domain ya mas…

  5. Wah keren banget tipsnya buat pemula seperti aku, nanti coba aku terapkan di blog aku yang akan fokus membahas mengenai tempat menginap selama melakukan perjalanan. Trims 🙂

  6. thanks mas Chan,,,

    baru sebulanan nih bikin blog khusus traveling buat sharing catatan perjalanan… masih amatir bgt, mohon bimbingannya senior 😀

  7. Gaya menulis, gaya menulis… Sedang dalam pencarian Kak. Kayaknya yang sekarang terpengaruh sama novelis favorit. Besok-besok entah mengadopsi gaya siapa -_-

    Oya, gaya naratif itu fokus di detail perjalanankah?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here