“Heap Seng Leong Uncle”

“Coba saya lihat di Maps”

“Ya Uncle, tahu tempatnya?”

“Ah, saya tahu! Waktu kecil saya sering ke tempat ini”

Taksi yang saya cegat di jalan segera mengantarkan saya ke Heap Seng Leong, kedai kopitiam tua di Singapura yang masih bertahan hingga sekarang. Untungnya sopir taksi tau Heap Seng Leong sehingga saya tak perlu repot-repot mengarahkan dengan Maps.

Saya menuju Heap Seng Leong karena satu alasan, tempat ini salah satu kopitiam lama yang masih bertahan hingga sekarang.

Ke Singapura tanpa ke kopitiam seperti lupa akan sejarah. Sebelum era kopi modern dan munculnya kafe-kafe di sudut Singapura, kopitiam adalah raja, menjamur di sudut-sudut Singapura.

Kira-kira tiga atau empat puluh dekade yang lalu, kebiasaan pergi ke kopitiam adalah kebiasaan utama orang-orang Singapura.

“Sudah sampai, itu dia tempatnya, jangan lupa pesan Kopi Gu You”

“Terima kasih Uncle”

Saya tiba di Heap Seng Leong dan rasanya saya kembali ke era Singapura tiga atau dua puluh tahun lalu. Kopitiam ini sangat sederhana, tidak ada sign besar, yang ada hanya papan nama bertuliskan Heap Seng Leong. Meja yang ditata sekedarnya dilengkapi kursi plastiknya.

Di bagian dalam Kopitiam tidak ada sekat. Ada lemari besar dan meja kasir yang tampaknya berasal dari tahun 1970-an. Selebihnya barang-barang di kopitiam yang diletakkan begitu saja. Jika belum pernah ke tempat ini, rasanya kopitiam ini terkesan muram.

Tempat ini memang kopitiam yang sudah tua, buka sejak lima dekade lalu dan sejak buka kepemilikannya belum berganti, peracik kopi juga belum berganti. Usia kopitiam dan pemiliknya semakin tua, tapi semangat menyajikan kopinya tetap muda.

Ada dua orang yang bertugas di Heap Seng Leong, Pak Tua pemilik kopitiam dan anaknya. Sesuai kebiasaan, Pak Tua selalu memakai pakaian yang sama setiap pagi, celana piyama dan singlet. Tak ada yang tahu umurnya, mungkin 70 mungkin 80 tahun. Namun di usia senja, Pak Tua masih gesit meracik kopi untuk para pengunjung Heap Seng Leong.

Pak Tua dan anaknya
Pak Tua dan anaknya
Pak Tua dan anaknya

Bagi orang Indonesia memesan kopi di kopitiam Singapura mungkin akan sedikit membingungkan. Istilah kopi di Singapura memang berbeda dengan kopi di Indonesia. Jika memesan kopi maka yang akan hadir adalah kopi dengan susu dan gula, jika memesan kopi O maka yang datang adalah racikan kopi dan gula, kopi O kosong adalah kopi tanpa gula dan susu. Istilah itu belum seberapa, masih banyak istilah kopi di kopitiam Singapura.

Tapi di Heap Seng Leong saya hanya mengincar satu racikan kopi, Kopi Gu You, racikan kopi yang menjadi trademark Heap Seng Leong.

Kopi Gu You yang saya pesan sudah datang. Kopi ini adalah racikan kopi yang bagian bawahnya adalah susu kental manis, lalu dituang kopi panas yang sudah disaring dengan kain. Belum selesai, ditambahlah satu racikan terakhir, mentega. Jadilah kopi susu yang berwarna kekuningan, hasil lelehan mentega dalam gelas kopi susu yang panas.

Kopi Gu You

Di Heap Seng Leong, Kopi Gu You adalah menu utama. Barangkali banyak yang bertanya, apa istimewanya kopi susu dengan mentega? Tapi bagi pelanggan Heap Seng Leong, Kopi Gu You adalah minuman pemberi energi, dipercaya setelah minum Kopi Gu You, energi akan berlipat ganda.

Walau demikian saya tak terlalu peduli dengan cerita khasiat Kopi Gu You. Saya memesan Kopi Gu You hanya karena ingin merasakan citarasa khas kopitiam ini, sesederhana itu saja.

Menyesap Kopi Gu You, lidah rasanya tertancap sensasi aneh. Pahit kopi bercampur manis susu dan lemak mentega. Lemaknya membuat lengket lidah, namun paduan rasa kopi dan susu juga menggelitik dan membuat paduan rasa ini lama-lama meledak di lidah.

Roti panggang

Duduk di kopitiam tanpa memesan roti panggang dengan selai srikaya pastilah tak lengkap rasanya. Saya lalu memesan setangkup roti panggang dengan selai yang konon selainya dibuat sendiri dengan resep pemilik Heap Seng Leong. Benar atau tidak saya tidak tahu.

Kuenya dipanggang dengan pas, tidak kering juga tidak lembek. Selai yang sudah dioles meleleh karena panas roti panggang. Satu gigitan, selainya meleleh di lidah dan memenuhi mulut. Manis sekali, rasanya berlipat jauh lebih lezat dari selai-selai yang dijual di supermarket.

Lelehan mentega di roti panggangnya

Saya tidak bisa bertanya atau melakukan wawancara di Heap Seng Leong karena Pak Tua sangat sibuk, ia juga tipe orang yang tidak meladeni wawancara. Anaknya, yang saya taksir berusia 50 tahunan memberi tahu, lebih baik saya duduk dan menunggu pesanan datang karena ayahnya tidak pernah mau menerima wawancara.

Dengan tamu yang datang tanpa henti dan pesanan yang terus mengalir. Pak Tua bekerja tanpa pernah beristirahat. Seusai meracik kopi, Pak Tua mengiris roti, setelah mengiris roti, Pak Tua akan mengoles selai dan seterusnya. Sejak saya datang hingga menyesap kopi yang saya pesan dan menandaskan roti panggang, saya belum pernah melihat Pak Tua beristirahat.

Anaknya juga sama, mencatat pesanan, mengantar pesanan, membersihkan piring dan gelas kotor, terkadang turut meracik kopi. Dua-duanya berganti peran dengan semangat yang tak gentar dimakan umur.

Pak Tua dan anaknya memang sedikit berinteraksi dengan pengunjung, mereka berinteraksi dengan racikannya yang mendatangkan senyum bagi pengunjung yang mencicipnya.

Dua orang menjalankan kopitiam selama berpuluh-puluh tahun hingga sekarang menjadi legenda. Dari pagi buta hingga siang menggantang ratusan cangkir kopi dihidangkan.

Tak ada lagi yang terbayang selain dedikasi yang luar biasa. Di zaman sekarang, betapa sulit mempertahankan warisan dan kenangan masa lalu, di saat dunia modern menawarkan hal yang berbeda dan instan, termasuk racikan kopi.

Banyak kopitiam beranjak modern mengikuti zaman, seperti Killiney dengan franchise-nya yang menggurita sampai Indonesia. Tapi Heap Seng Leong tetap teguh dengan kesederhanannya, tidak mengikuti pola-pola modern, tetap sederhana, tetap meracik kopi dengan cara yang sama seperti setengah abad yang lalu.

Di titik ini kita melihat bahwa orientasi Heap Seng Leong bukanlah banyaknya gerai, tapi bagaimana tradisi dipertahankan. Pak Tua dari Heap Seng Leong adalah penjaga tradisi kopitiam Singapura yang sesungguhnya.

Selain soal tradisionalitas dan kesederhanaanya, ada satu hal yang tidak ditemui di kafe atau tempat ngopi lain di Singapura, namun bisa ditemui di Heap Seng Leong, keakraban.

Karena kopitiam ini sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu, pelanggan setia dan turun temurun terus datang. Mereka saling berbincang, berbicara, berdiskusi, tertawa terbahak-bahak, suasana akrab nan hangat ini yang membuat Heap Seng Leong menjadi spesial.

Saya pun akhirnya turut dalam suasana keakraban di Heap Seng Leong. Berbincang dengan beberapa pengunjung yang ternyata mereka sudah turun temurun menikmati kopi racikan Pak Tua.

Lokasi Heap Seng Leong jugalah yang membuatnya memiliki suasana yang akrab, berada di apartemen tua, Heap Seng Leong berada di jalur orang-orang berangkat bekerja. Lima puluh meter dari kopitiam adalah halte bus dan seratus meter lagi stasiun MRT. Orang-orang akan mampir di Heap Seng Leong untuk sarapan, sebentar menghela nafas dengan menyeruput kopi atau membeli bekal untuk bekerja.

Dengan lingkungan dan lokasi seperti ini tak heran jika nuansa hangat dan akrab selalu menguar dari Heap Seng Leong. Saya kagum dengan semangat Pak Tua menjaga Heap Seng Leong, mungkin itulah yang membuatnya tetap semangat seolah tak pernah kehabisan tenaga.

Jika selama ini saya selalu mengira Singapura adalah kota yang kaku dan suasananya yang dingin, maka di Heap Seng Leong hati saya menghangat, jiwa saya tiba-tiba menjadi akrab. Saya kira memang jika ke Singapura lagi saya harus kembali ke Heap Seng Leong dan semoga Pak Tua masih kuat menyajikan Kopi Gu You yang berlemak itu.

Tabik.

Heap Seng Leong

10 N Bridge Rd, #01-5109, Singapura 190010

Google Maps Heap Seng Leong

Follow Efenerr on WordPress.com

27 KOMENTAR

  1. Unik juga yach kopi susu pakai mentega. Yang membuat semangat Pak Tua tetap menjaga tradisi Heap Seng Leong pasti karena pengunjungnya yang setia menanti citarasa kopi racikannya yach mas.

  2. kayanya kemarin sempat baca penjaga masjid tertua di singapura juga, di sini atau di mana ya? saya browsing lagi tapi kok tulisannya tidak ada. But anyway, senang sekali baca tulisan ini. Singapura ga pernah menarik buat saya karena menurut saya dia cantiknya terlalu artifisial, hehehe.. baru tau ada tempat ini, next time ke sana saya akan coba ke sana deh. Menarik sepertinya. Ditunggu tulisan-tulisan dengan objek cerita sejenis ini, mas! Salam! 😀

  3. Membaca tulisan ini, setelah membaca ulasan tentang gula, membuat saya berfikir, “jadi secangkir kopi, susu, mentega, dan setangkup roti bakar srikaya itu, bisa membuat lingkar perut bertambah berapa cm ya?”
    😀

  4. ngeliat tempat kedai kopinya, kayaknya balik ke tahun lampau. aku sih taunya dari film film mandarin gitu hehehe.
    ngeliat bapaknya rada kasian, sampe udah kurus sampe sampun bungkuk gitu. tapi semangatnya luar biasa. salut, kek.

  5. Aku penasaran sbnrnya… Tp jg ragu mau icip yg kopi mentega :D. Soalnya pas di korea aku prnh icip Butter tea mas.. Dan rasanya sumpah ga ketelan wkwkwkwk.. Tp sepertinya kalo kopi yg dikasih mentega, mungkin rasa menteganya bisa ketutup kali ya ama kopi yg lbh kuat.. Kalo ama teh kalah rasa tehnya..

  6. Menurut gw emang sebenarnya yang menarik dari Spore adalah sisi budaya peranakan nya dibandingkan dengan segala kemodernan yang mereka miliki. Sebenarnya di Indonesia hal ini juga ada sih dan bercampurnya beda-beda tergantung dimana mereka berada. Seru!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here