Tiga jam berkereta dari Tokyo saya tiba di Matsumoto, sebuah kota kecil di area pegunungan. Orang-orang Matsumoto bangga dengan kotanya yang dikatakan sebagai pusarnya Jepang. Ya, kota ini konon tepat berada di tengah-tengah Jepang baik jika dihitung dari utara ke selatan maupun dari barat ke timur. Tak ada jalur Shinkansen ke Matsumoto, kota ini memang bukan kota besar, hanya sebuah kota bersahaja yang penuh sejarah.

Karena tiada kereta peluru saya naik kereta ekspress dari Stasiun Shinjuku ke Matsumoto. Ketika tiba, Stasiun Matsumoto sepi saja, nyaris tiada turis yang turun bersama, hanya para pekerja dan penduduk Matsumoto. Kota ini memang belum sepopuler Tokyo, Kyoto atau Osaka yang senantias jadi jujugan para wisatawan Indonesia. Kota ini sedang menggeliat pelan-pelan dan mengundang orang untuk datang.

Pariwisata memang menjadi permata baru bagi Matsumoto, kota ini adalah kota terbesar kedua di prefektur Nagano dan sudah ada sejak abad ke 16. Awalnya kota ini adalah kota militer, basis pertahanan Tokugawa dan kemudian berkembang menjadi kota sekarang.

Kesan pertama tentang kota ini adalah serupa dengan kota pensiunan. Kota ini tenang sekali dan tertata apik, bangunan-bangunan kuno dari kayu masih bertebaran di sudut kota, bersisian serasi dengan bangunan baru nan modern. Kehidupan di Matsumoto tidak secepat ritmenya dengan Tokyo, orang-orang Matsumoto tampak lebih menikmati hidup, berjalan pelan tak tergesa dan banyak senyum. Sebentuk sederhana dari wujud bahagia yang tampak dari orang-orang Matsumoto.

Kastil Matsumoto dan sekitarnya

Di masa lalu pusat kota ini adalah Kastil Matsumoto, bangunan nan megah yang menjadi tonggak berdirinya kota ini. Di era keshogunan, Kastil Matsumoto adalah perlambang kekuasaan daimyo dan menjadi pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan kota.

Kastil ini layaknya kastil Jepang pada umumnya, memiliki kolam sebagai sarana pertahanan pertama, lalu dibangun tinggi dengan pondasi batu dengan kemiringan tajam sebagai sarana pertahanan berikutnya. Pondasi batu memang menjadi pakem utama kastil di Jepang, tahan gempa adalah alasannya, lalu bangunan enam lantai kastil ini dibangun dengan tiang-tiang dan dinding dari kayu.

Sebagai salah satu tempat wisata ternama di Matsumoto tentunya kastil ini ramai pengunjung. Setiap hari wisatawan domestik maupun mancanegara mengunjungi kastil ini. Bagusnya adalah tersedia relawan pemandu gratis yang bisa berbahasa inggris untuk para wisatawan, benar-benar gratis tanpa dipungut biaya. Tiket masuk museum ini pun cukup murah hanya 610 Yen.

Ada banyak bagian dalam Kastil Matsumoto, lantai pertama adalah bagian pertahanan, di sini ada meriam dan senapan laras panjang dari abad ke-16. Konon penguasa kastil membelinya dari Portugis. Lantai dua hingga enam adalah ruangan utama para penghuni kastil. Saya terbayang bagaimana di masa lalu, kastil ini pastilah ramai sesak para prajurit dan daimyo-nya.

Satu cerita menarik dari kastil ini adalah konon kastil ini adalah satu-satunya kastil yang belum pernah rusak sekalipun akibat gempa dan perang. Sebabnya adalah konstruksi yang kuat dengan jalinan kayu-kayu terpilih, serta ada kepercayaan bahwa kastil ini dilindungi oleh para leluhur.

Puas berkeliling kastil saya lalu melanjutkan perjalanan di Matsumoto. Kiranya 300 meter dari kastil ada restoran Soba yang ternama, Takagi. Restoran ini mengkhususkan diri pada menu Soba, salah satu jenis mie yang ada di Jepang. Tak hanya restoran, Takagi menawarkan pengalaman lebih dengan mengadakan kelas membuat Soba bagi para wisatawan.

Saya-pun lantas mengikuti kelas ini, ternyata tak susah juga membuat Soba. Hanya butuh tepung Soba, air dan kekuatan tangan. Pertama tepung Soba dicampur air, lalu dimampatkan dengan tangan selama berulang kali. Setelah adonan menjadi mampat, lantas dipipihkan dengan kayu penggiling hingga benar-benar tipis. Setelah itu dilipat menjadi empat dan terakhir dipotong-potong.

Proses memotong inilah yang menjadi proses paling sukar. Pembuat Soba professional tentunya sangat presisi untuk memotong dengan ketebalan yang sama, sementara saya yang baru sekali membuat Soba mengiris adonan dengan sangat amburadul, tebal tipis nomor sekian yang penting adonan dipotong. Total dari adonan hingga dipotong kurang lebih butuh waktu satu jam.

Usai membuat Soba, saya pun menyicip Soba yang saya buat tadi. Inilah cara khas restoran Takagi. Pengunjung langsung menyicip Soba yang dibuatnya sendiri. Sobanya sendiri sangat sederhana, hanya disantap dengan kuah, daun bawang dan wasabi. Namun, walaupun terlihat sangat sederhana ternyata nikmat juga menyicip Soba buatan tangan sendiri.

Jalan-jalan Penuh Bangunan Tua

Selayaknya kota tua, daya tarik utama kota ini tentulah pada peninggalan-peninggalan masa lalu, bangunan tua yang masih apik terjaga. Saya kemudian berjalan kaki menyusuri kota demi menikmati jalanan penuh sejarah.

Ruas jalan yang pertama saya kunjungi adalah Nakamachi-dori. Seruas jalan sepanjang satu kilometer lebih ini seluruhnya terdiri dari bangunan lama. Fasad bangunannya seragam, dengan paduan konstruksi dari kayu dan batu dan mayoritas bercat putih.

Pemerintah Kota Matsumoto menjadikan Nakamachi-dori sebagai  salah satu tujuan wisata. Setiap toko diberikan register resmi berupa nama toko dan keterangan usahanya. Satu demi satu toko saya datangi, semua menyajikan hal otentik dari Matsumoto, entah souvenir, kerajinan, kebutuhan rumah hingga kuliner. Saya mengunjungi dua toko kuliner, pertama adalah toko permen tradisional dan yang kedua adalah toko baumkuchen.

Sedikit cerita tentang baumkuchen, kue ini sebenarnya bukan kue asli Jepang, awalnya adalah kue dari Eropa yang masuk ke Jepang setelah era Restorasi Meiji. Lalu banyak ahli masak Jepang yang belajar di Eropa turut mempopulerkan kue ini. Hingga akhirnya kini baumkuchen menjadi salah satu kue yang khas di Jepang, setiap daerah memiliki versi baumkuchennya masing-masing.

Di satu sudut Nakamachi-dori ada bangunan balai warga, dulu merupakan tempat warga berkumpul dan bermusyawarah, kini menjadi semacam bangunan publik dan dilengkapi dengan taman. Di suatu sudut ini juga terdapat pompa air manual yang biasa digunakan warga untuk mengambil air untuk minum. Pompa air ini dilestarikan sebagai penanda sejarah Matsumoto, karena di masa lalu pompa air ini sangat berguna untuk menyediakan air minum bagi warga Matsumoto yang lewat di daerah ini.

Bergeser dari Nakamachi-dori, saya menuju Nawate-dori, jalan yang lebih tradisional jika dibandingkan Nakamachi-dori. Di Nawate-dori, rata-rata penjualnya adalah oba-san yang tetap semangat berjualan meski berusia senja. Ruas jalannya pendek saja, tak lebih dari 300 meter dan barang jualannya adalah kerajinan tangan Matsumoto.

Toko di Nawate-dori seluruhnya dari kayu, dengan pintu geser dan atap rendah. Tepat di ujung jalan terdapat Kuil Shinto, pada masa lalu toko-toko ini menjual barang dagangan untuk para peziarah yang ingin ke kuil. Karenanya tempatnya tepat di sepanjang jalan menuju kuil.

Dari dua jalan di Matsumoto ini kentara sekali bagaimana kota ini menjaga warisan sejarahnya. Jalan yang rapi, bangunan tua yang tetap bertahan bahkan dilestarikan oleh pemerintah dan juga pihak pemerintah menyokong sejarah dua jalan tadi dengan membuatnya menjadi tempat wisata utama di Matsumoto. Sebuah langkah pelestarian sekaligus mendatangkan benefit yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Main Salju di Norikura Kogen

Matsumoto jika dibandingkan dengan kota di Indonesia adalah serupa Bandung, berada di hamparan cekung dikelilingi gunung. Maka gembur dan suburnya tanah Matsumoto tak lain tak bukan karena pegunungan ini, dari gunung-gunung ini mengalir air jernih menuju Matsumoto.

Maka tak lengkap jika tidak menuju area pegunungan, saya kemudian menuju Norikura Kogen, sekitar 30 menit perjalanan dari Matsumoto. Norikura Kogen adalah kawasan pegunungan sekaligus pusat kegiatan luar ruangan. Bagi penggemar olahraga luar ruang, Norikura Kogen adalah salah satu tempat tujuan untuk melampiaskan adrenaline.

Suhu mencapai -8 derajat celcius ketika tiba di Norikura Kogen, mendadak tangan menjadi kaku, kuping berdenging, rupanya jaket yang saya pakai kurang mampu menahan hawa dingin. Daerah ini secara umum memang lebih dingin daripada Matsumoto, hal ini karena letaknya yang lebih tinggi.

Di Norikura Kogen saya bersua Mine, salah seorang pemandu senior, kelahiran daerah ini dan menjadi pemilik perusahaan penyedia jasa bertualang di alam liar Norikura Kogen. Mine kemudian meminjamkan pakaian musim dingin, sepatu salju dan crampon, alat bantu untuk berjalan di salju.

Mine kemudian mengajak saya berkeliling hutan dan area pegunungan Norikura Kogen, di musim dingin macam sekarang ternyata minat bertualang orang-orang Jepang di alam bebas tak surut-surut. Banyak rombongan yang trekking di tengah salju, main ski sampai snowboard di area pegunungan ini.

Berjalan di salju ternyata susah sekali, licin dan gembur. Belum apa-apa saya sudah terperosok dua kali, Mine hanya tertawa melihat saya terperosok. Lalu menasehati agar menjauhi pohon ketika berjalan di atas salju karena salju di pohon cenderung lebih gembur dan rawan longsor.

Setengah jam berjalan, saya tiba di Danau Ushidome, yang tentunya sudah tak lagi berbentuk danau, semua melulu putih, berselimut salju tebal. DI sini Mine menawarkan berhenti sejenak dan beristirahat. Mine membuka tasnya, mengambil sendok dan susu, menuangkan susu di atas salju lalu menyendoknya dan memakannya. Ya, Mine memakan salju, saya pun akhirnya ikut makan salju. Mine berkata begitulah jika sedang berjalan di hutan saat musim dingin, jika kehausan bisa makan salju.

Usai istirahat saya lansung melanjutkan perjalanan dengan Mine di depan sebagai pemandu. Naik turun bukit di salju rupanya sangat melelahkan, tak seperti di trek gunung di Indonesia, hawa dingin, kekurangan oksigen dan medan yang berat membuat badan cepat lelah. Itulah mengapa saya sering berhenti dan mengatur napas untuk mengembalikan energi.

Kiranya satu jam berjalan, Mine berhenti di titik air terjun Air Terjun Sanbondaki. Tentunya sudah tak mirip lagi dengan air terjun, semuanya sudah beku dan air terjun tersebut sekarang lebih mirip tembok es raksasa dengan konturnya yang megah. Tak seluruh air terjun beku karena salju, di beberapa titik air masih mengalir dan membentuk kolam-kolam kecil nir salju. Tak berapa lama di sini untuk mengambil foto, Mine mengajak untuk melanjutkan perjalanan.

Jalur yang saya lalui memang jalur trekking utama di Norikura Kogen, sepanjang musim jalur ini selalu ramai untuk trekking. Karenanya fasilitasnya juga cukup lengkap dan memudahkan para pengunjung.

Entah sudah berapa kali naik turun bukit, hingga akhirnya Mine berhenti dan bilang jalur selanjutnya akan turun. Berarti saya sudah tiba di titik tertinggi trekking kali ini. Mine kemudian menceritakan bahwa jalur berikutnya akan curam dan sedikit berbahaya, ia menyarankan untuk turun dengan mempercepat langkah untuk mencegah kaki cedera. Saya menurutinya, turun setengah berlari sekaligus meluncur dengan crampon yang berfungsi serupa papan ski.

Tepat di ujung turunan ternyata memang titik henti trekking. Mobil jemputan telah menanti, Mine segera memasukkan perlengkapan trekking ke dalam mobil. Waktu sudah menunjukkan tengah hari, total jenderal sudah 3,5 jam trekking di Norikura Kogen berasama Mine. Pengalaman pertama yang sungguh menegangkan juga menyenangkan.

Matsumoto Yang Harus Dikunjungi

Dua hari di Matsumoto rasanya tidak cukup, tetapi layaknya seorang musafir, masih ada kota lain yang harus dituju. Usai dua hari di Matsumoto saya berkemas untuk menuju kota berikutnya, Takayama.

Namun, saya memang harus bilang bahwa Matsumoto adalah sebuah tempat yang layak kunjung, pilihan tepat jika menginginkan wisata sejarah, kuliner dan budaya. Di Matsumoto, orang-orang menjalani ritme hidup dengan tenang sembari melestarikan budaya yang telah lekat selama berabad-abad.

Tabik

 

Follow Efenerr on WordPress.com

4 KOMENTAR

  1. Aku baru tahu ada kota bernama Matsumoto di Jepang. Aku lebih akrab bahwa Matsumoto adalah nama orang, bukan kota. Haha.
    Sejelek apapun karya sendiri, tetep ada rasa puasnya ya, Mas 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here