12797764_998840893527872_1534440084_n

Empat atau lima tahun yang lalu saya adalah orang yang meledak-ledak. Saat itu ambisi saya adalah tentang bagaimana mencapai puncak karir dengan cepat, mendapatkan gelar setinggi-tingginya lalu mencapai puncak sebuah jabatan. Dengan demikian saya bisa menjadi “orang”.

Tapi sekarang, saya merasa Tuhan amat baik. Alih-alih mengabulkan dan melapangkan jalan untuk ambisi, Tuhan menggagalkan saya berkali-kali. Saya gagal ujian Diploma Empat, saya gagal UPKP dua kali, saya tak pernah dipanggil diklat pun saya tak dekat dengan pejabat.

Tuhan rupanya membelokkan garis hidup saya, mengingatkan bahwa garis hidup saya bukan seperti itu. Tuhan kemudian mengajak saya berkenalan dengan orang-orang yang dalam hidupnya tak lagi mengejar ambisi, orang yang sejak muda berkelimpahan daya upaya untuk bermanfaat bagi orang lain.

Apa salah punya ambisi tinggi? Tidak, itu soal preferensi saja kog.

Di umur sekarang, teman-teman alumni seangkatan tempat saya kuliah sedang mendaki tangga ambisi. Berlomba-lomba melanjutkan magister, berlomba-lomba untuk resign dan mencari penghidupan lebih baik, berlomba-lomba untuk mencari aktualisasi diri dan pengakuan. Ambisi yang membuat saya geleng-geleng kepala tanda salut, hormat tunduk.

Sementara saya, ya begini-begini saja. Berangkat ke kantor, pulang, menulis, tidur, lalu memutar seperti lingkaran setan. Rutinitas yang cukup membosankan bukan?

Kegagalan-kegagalan ujian tidak menjadi cambuk bagi saya, justru membuka mata saya bahwa jalan saya bukan di situ, rupanya dalam hidup jalan itu bercabang, berkelok-kelok.

Tapi apa kamu tidak ingin kuliah S2 di luar negeri? Ya ingin, tapi saya mah go with the flow.

Saat ini istri saya yang lebih berpeluang untuk melanjutkan jenjang S2 lebih dahulu, sebagai suami saya tentu menyokong, memberi dukungan, memberi support. Untuk sekarang, ambisi sekolah tinggi-tinggi saya ganti dengan ambisi membantu istri bersekolah tinggi-tinggi.

Istri selama ini sudah mendukung penuh kegiatan saya traveling dan menulis, sudah sepantasnya saya membayarnya dengan mendukung karirnya. Jika lulus S2, saya rela cuti di luar tanggungan negara demi menemani istri melanjutkan studinya.

Saya realistis, saya baru boleh secara resmi melanjutkan kuliah S2 di 2017, jika di antara kami ada yang berpeluang lebih cepat kenapa tidak memberikan peluang tersebut? Iya bukan.

Sebagai lelaki saya tak bisa egois, istri saya punya kesempatan dan saya harus menyokongnya. Pilihan untuk maju tak boleh terganggu karena identitas sebagai seorang istri. Jika saya memiliki progress dalam menulis, istri juga harus memiliki progress dalam karir.

Saya sadar diri, andaikata kelak istri saya karirnya lebih tinggi saya sudah siap mengalah. Saya sudah siap menjadi bapak rumah tangga, saya yang tinggal di rumah, mengurus dan membesarkan anak. Karena secara karir, secara intelektual, istri saya jauh melampaui saya sebagai suaminya.

Adik saya pun saat ini sedang seleksi S2, semoga lancar dan dia bisa segera ke Korea Selatan, negara impiannya. Jika istri dan adik saya lulus semuanya, apa saya tak lebih berbangga hati sebagai seorang suami dan kakak?

Pengorbanan

Ketika saya melepaskan dengan sukarela jabatan Account Representative dan kembali menjadi pelaksana yang kerjanya hanya mengangkat telepon, kehilangan penghasilan sekian juta, maka pada titik itulah saya sudah siap dengan konsekuensi bahwa saya tak akan lagi mengejar karir, saya tak mengejar pengakuan diri.

Pengakuan diri tidak muncul dari diri sendiri, hal itu muncul dari orang lain. Orang yang menghamba pengakuan diri pasti ingin menonjol, tapi orang-orang yang diakui orang lain tak perlu susah payah membuat dirinya menonjol, orang-orang akan hormat terlebih dahulu.

Saya sudah mencapai segala-galanya sebagai Account Represantive, Everest sudah saya capai. Tak ada gunung yang lebih tinggi dari Everest, maka saya putuskan untuk menyelam. Kembali menjadi pelaksana, kembali bersusah payah bekerja dari nol.

Jika saya ambisinya menjulang, tentu saya akan tetap sebagai Account Representative, lalu mutasi ke Bandung, menjadi yang terbaik. Di Garut, saat segala indikator pencapaian individu sebagai Account Representative sudah saya lampaui, ironisnya saya tak mampu membantu kantor mencapai pencapainnya. Sebagai individu saya berhasil, sebagai satu kesatuan saya gagal dan saya seharusnya tak boleh berbangga hati dengan segala pencapaian individu saya.

Ternyata mengorbankan satu hal, membuka pelangi yang lain. Saya bisa mendekat dengan istri, saya mengenal lebih banyak orang, tawaran menulis terbuka lebar pun demikian saya bekerja sesuai passion. Mau tahu kerja saya sekarang? Mengurusi akun media sosial institusi tempat saya bekerja, menyenangkan bukan?

Atas hal ini saya sudah harus sangat-sangat bersyukur karena setelah menjadi pelaksana lagi, sebagai individu saya menjadi lebih lengkap. Penguasaan aturan lebih fasih, belajar communication skill lebih banyak, secara organisasi saya merasa saya adalah sekrup yang menggerakkan organisasi. Saya tak meraih banyak prestasi individu di kantor saya sekarang, tapi saya merasa saya berpeluh demi organisasi dan saya cukup puas dengan itu semua.

Kembali ke Jakarta saya belajar kembali bahwa kinerja, karya dan ketekunan bekerja adalah hal-hal yang membuat seseorang memiliki nilai di mata orang lain. Walaupun di Jakarta saya juga belajar bahwa orang-orang ganas memanfaatkan koneksi, ganas menggunakan lidah untuk menjilat demi nilai di mata orang lain, ganas menjual diri demi mendapatkan apa yang diinginkan.

Ah, sekali lagi itu soal preferensi. Saya lebih memilih bahwa karya adalah nilai yang dibawa dan pembawaan diri adalah kunci. Jilatan memang bisa membuat seseorang menjadi lebih tinggi, tapi apa tak khawatir air ludah akan kering jika terlalu banyak menjilat?

Meloncat?

Saya bukan tak mau meloncat, saya mau tapi ada norma-norma yang harus saya hormati. Dua kali saya ditawari untuk berpaling, dua kali pula saya tidak bisa mengiyakan. Ketika saya mencoba meminta restu, di sudut kampung di Magelang, Ibu ngendika “Kamu jangan keluar, kamu tetap jadi PNS.”

Vox Matrix Vox Dei. Suara Ibu adalah Suara Tuhan.

Saya bisa apa kalau Ibu tak memberi restu? Apa saya mau melawan kata-kata Ibu yang sudah melahirkan saya, membesarkan saya sebagai single parent ketika ditinggal Bapak, yang mendoakan di tiap tengah malam? Ya kan tidak.

Ternyata Ibu meminta saya untuk lebih banyak bersyukur, lebih banyak menengok apa-apa yang sudah saya capai, meminta untuk lebih menunduk, ah bahagianya. Tak apa-apa saya tetap di bawah, tapi doa Ibu selalu terlimpah, tak apa saya tak maju, asalkan Ibu masih memberi restu.

Soal ampuhnya restu Ibu saya sudah pernah merasakannya. Jaman SMP saya nekat pergi tanpa restu Ibu ke Merbabu. Apa yang terjadi, badai besar, hujan lebat, teman yang sakit di pendakian. Pulang ke rumah saya hanya bisa menangis tersedu-sedu minta maaf.

Ambisi

Banyak juga yang bilang saya dimanfaatkan orang lain, saya terlalu baik, saya tidak bisa menolak. Tak apa, ya memang begitulah saya sejak dulu, lalu harus bagaimana?

Saya selalu bahagia melihat orang lain punya ambisi sukses dengan caranya sendiri.Bukan memanfaatkan fasilitas orang lain.

Ada seorang teman yang saya kagumi, diam-diam keluar dari tempatnya bekerja, lalu kuliah di Eropa sana, berdikari. Dari Bantul ke Eropa, sungguh perjuangan keras yang membawa hasil. Orang ini pintar sekali sejak kuliah, saya kagum benar dengan kecerdasannya dan saya belajar bahasa Inggris darinya. Setelah lulus saya belum pernah bersua, tapi sejak kuliah saya melihat jelas matanya berbinar untuk maju.

Walaupun kini saya hanya bisa mendengar ceritanya dari orang lain karena kami sudah tak berkomunikasi lama sekali dan mungkin saling sungkan. Tapi saya bangga dan bahagia sekali teman saya bisa mengejar mimpinya, dengan keberaniannya. Sesuatu yang tak bisa saya lakukan.

Di dunia yang semakin oportunis ini, ternyata Tuhan berlaku indah. Memberi saya jalan yang belak-belok dan saya semakin sadar, ternyata ambisi saya hanya satu yaitu menjadi manusia yang bermanfaat orang lain. Entah bagaimana caranya.

Tabik.

Foto oleh Orang Jakarta.

113 KOMENTAR

  1. Ketika menjalani hidup dengan tanpa beban ambisi sepertinya hidup kita lebih ringan dan lebih mudah melewati hari demi hari ya mas.. Suka banget ama pengalaman hidupnya. Ngk butuh jabatan besar untuk bisa bermanfaat bagi hidup kita dan hidup orang lain…

  2. Bertahun tahun saya mencari jawaban atas “kepergian” saya dari salah satu perusahaan besar di Indonesia dan setelah baca tulisan ini saya menemukan jawabannya. “Ambisi saya hanya satu yaitu menjadi manusia yang bermanfaat orang lain. Entah bagaimana caranya”. Terima kasih atas tulisan yang membuat saya tertampar. Sakit tapi bikin sadar.

  3. Restu Ibu memang tak pernah bisa digantikan dengan apapun ya Mas. Semoga jalan apapun yang njenengan ambil selalu terlimpahkan keberkahan. 😊

  4. Ah, dulu saya juga begitu. Ambisi pengen begini begitu. Tapi, lama-lama ngerasa, ambisi itu bikin capek. Saya jadi nggak punya temen :( . Sekarang, saya juga mau fokus, ingin lebih bermanfaat bagi sesama. Terimakasih buat tulisannya yang menguatkan semangat saya 😀

  5. Mantap Mas, semoga yang sekarang barokah. Kalau mau S2, sama sih.. pingin juga S2 ke luar negeri lewat LPDP. Tapi yang saya lakukan sekarang saya yakini adalah yang terbaik. :)

  6. Selama bahagia dengan pekerjaan ya gak papa. Tp kalo gak puas nanti stres loh. Dari tulisan kamu kok keliatannya kayak ‘terpaksa’ bersyukur, tp masih berasa ada yg ganjel. Bener gak? Apalagi ada kalimat ‘Tapi saya bangga dan bahagia sekali teman saya bisa mengejar mimpinya, dengan keberaniannya. Sesuatu yang tak bisa saya lakukan.’ Wah..jangan gitu mas. Optimis dong 😀👍

  7. terimakasih Mas Chaan sudah memberi sya inspirasi untuk segalanya, dan sya ingin bertanya gimana yaa supaya bisa belajar b.ing dengan otodidak ? banyak yg menyarankan sya untuk sering mendengar lagu2 tpi sya enggan untuk mendengarkan lagu2 luar karena belum paham betul dari arti2nya :) mohon Mas Chaan memberikan sarannya

    Terimakasih :)

    • Belajar dari lagu adalah salah satu cara yang gampang, apalagi kalau suka karaoke. Selain jadi ngerti maknanya, kita dipaksa melafalkan jadi ga canggung ngomong juga. Cara lain belajar dari buku anak-anak yang bahasanya lebih sederhana. Semangat ya Mas!

  8. bulan ini saya sudah masuk kepala tiga, semetara saya merasa diumur yang sekian kok gini2 aja sedangkan ketika melihat rekan2 lain sudah “lebih” dari saya. syukur setelah saya membaca tulisan diatas saya merasa diingatkan untuk lebih banyak bersyukur daripada membanding-bandingkan diri dengan rekan2. matur nuwun.

  9. Membaca nya berasa kesayat-sayat mas Ef. Walaupun aku tau ketika menjalankan semuanya tidak semudah tulisan tapi entah kenapa membaca kata per kata rasanya penuh arti, ada peluh keringat, air mata dan perjuangan didalamnya. hiksss

  10. 9 tahun kerja di bank asing yg sekarang, aku juga ga pengen ngoyo mas.. kalo beberpa org temen udh mencapai posisi yg lumayan tinggi, aku sendiri, naik tapi lambat. Iri ga ama temen2 yang dulu masuknya bareng ama aku, tapi skr udh di atasku? Ga samasekali tuh :D..

    daridulu, aku udh diajarin ama papa, rezeki, pangkat, itu semua Tuhan yang ngatur. mau sekeras apapun kita usaha, kalo emg Tuhan blm kasih, ya ga bakal naik2… toh mnrtku, walo posisiku naiknya lambat, tapi suamiku super cepet.. Aku mau minta apa sih ;).. justru bersyukur lah, kenaikan pangkat dan gaji Tuhan kasih lwt suami.. yang menikmatikan istri juga 😉

    pokoknya yg ptg, aku msh ada kerjaan, masih trima gaji, bonus, dan fasilitas2 lain dari kantor, dan yg trpenting mas, tiap tahun masih bisa traveling.. udah… Itu aja cukup alhamdulillah :).. hidup enak toh kalo ga ngoyo kemana2 😀

  11. Membaca tulisan ini seperti dejavu karena pernah merasakan pada saat dipuncak kemudian memutuskan untuk menyelam. Tetapi waktu itu aku bilang ke diri sendiri untuk mengibaratkan bahwa aku mundur sejenak seperti anak panah yang suatu saat melesat pergi jauh mengejar mimpi yang lain. Ternyata memang yang diucapkan dalam hati itu adalah doa, jadi menebak2 apakah keadaan sekarang itu seperti yg kubatinkan dulu. Tulisannya bagus, semoga apapun yang diimpikan kedepannya memang yang diinginkan dan mendapatkan restu :)

  12. Di tengah kebimbangan saya dalam menapaki karier, tulisan mas membuat saya merenung, apa sih yg saya cari? Apa sih passion saya? Apa yg sudah didapat dan sudah diberikan?
    Alhamdulillaah saya juga masih ada ibu yg tiap malam selalu merapalkan doa2 untuk anak mantu cucunya.. Subhaanallaah
    Semoga Allah memberikan kemudahan dan petunjuk untuk saya bisa berkata “inilah jalan saya”..
    Salam sukses dan sehat selalu untuk keluarga mas…

  13. Salam kenal, Bang!
    Salam satu kementerian (tapi beda dirjen) hihi!
    Mengejar tugas belajar/beasiswa internal, secepat mungkin jadi pejabat, mungkin itu tujuan buat orang seperti saya yang masih baru masuk ke dalam lingkungan kementerian. Tapi yang paling penting adalah gimana caranya kita bermanfaat bagi orang lain. Betul sekali bang.
    Satu lagi yang ingin saya buktikan utk diri sendiri bang, bekerja sebagai PNS tidak jadi halangan bagi PNS untuk traveling dan pergi ke tempat baru.
    Sukses selalu bang!
    Gbu

  14. Salam kenal Mas Ef, sya sering sering dengar tentang blog sampeyan ini.
    Dan baru lewat tulisan ini saya baru tau kalo Mas Ef ini seorang PNS, toss Mas he3 dan kita juga teryata sama-sama dapat tugas mengelola akun sosmed dan blog institusi. Sebuah job yang asyik walo kadang saya merasa ada conflict of interest antara ngurusin akun instutusi dan blog 😛
    Soal ambisi, kalau di kantor saya nggak ada ambis untuk punya jabatan yang tapi Alhamdulillah malah dikasih jalan untuk ke sana he3 walo baru sebatas lebel kepala urusan aja.
    Ambisi saya lebih banyak ke keluarga, ingin membahagiakan mereka lewat blog karena saya lihat di sini peluangnya besar untuk berkembang.

  15. Au wes ngefans padamu sejak dicritani adikku soal kancane sing pindah seko AR menyang call centre. Mugi Gusti ngijabahi pandongamu lan keluargamu binerkahan, mas.

  16. Memang dahsyat ya mas restu Ibu itu, saya pun sudah pernah merasakannya. Lanjutin S2 juga salah satu keinginan saya, untuk mengupgarde diri saya lagi. Sukses selalu Mas dan salam kenal :)

  17. Wah menyentuh sekali tulisannya, mas. Saya setuju. Yang banyak kita sangka kita duga itu mungkin karna kita sebagai manusia ndak akrab buat sering tanya sama tuhan. Setiap pagi kita punya rencana, tapi jadi lupa tanya “Kira-kira tuhan punya rencana apa ya hari ini?”. Saya sering ngerasa gitu, bukan garis hidup saya yg berubah tapi mungkin saya yg gak mau cari tau tuhan maunya apa Hahaha

  18. Tak ada kata lain sepakat. Saya pun demikian, dulu selalu berambisi. Namun setelah suratan berkata lain, apalagi setelah menjadi ibu, saya berpikir ulang. Bukankah dalam setiap doa, saya selalu meminta umur yg bermanfaat? Bukankah cita2 hidup saya bermanfaat bagi lingkungan sekitar? Akhirnya doa saya dikabulkan, dg jalan yang tak disangka.

  19. Bagus sekali mas artikelnya, selalu saya salut dengan tulisan mengenai pengalaman namun bukan bermaksud menggurui dan dapat menginspirasi.

    Tolal ukur memang menjadi urusan pribadi, namun totalitas memang kunci pasti kesuksesan. Terimakasih juga sudah mengingatkan pentingnya percaya kata Ibu.

  20. salam kenal mas farchan, jaman sekarang banyak orang berlomba-lomba mas mau jadi PNS bahkan menyogok, apalagi
    kerja di kantor pajak dianggap lahan basah ya begitulah pemikiran sebagian besar masyarakat padahal kebahagiaan hati diperoleh ketika banyak berbagi bukan mengambil sebanyak-banyaknya. seneng ada laki-laki yang senang istrinya berpendidikan tinggi dan mensupport karena sebagian laki-laki merasa egonya terluka jika istrinya lebih pintar dan lebih tinggi penghasilan atau jabatan di kantor. tetap semangat menulis mas farchan semoga tulisannya mencerahkan. Menulislah maka kita akan membuat sejarah, lupa itu quote dr siapa

  21. wow, ini tulisan yang menginspirasi dari rekan satu dirjen, mas farchan hehehe… thanks karena sudah membuat saya ga menyesal untuk tetap traveling walaupun banyak orang kantor yang komentar dan tetap melakukan yang terbaik untuk bermanfaat buat orang banyak walaupun mungkin diremehkan oleh orang lain :)

  22. Hmm.. tulisan menarik yg seakan menyentil saya secara pribadi.. karena mungkin kita satu almamater, satu angkatan, satu tempat kerja dan menduduki jabatan yg sama (AR)

    Bedanya mungkin nasib anda sedikit lebih baik dari saya, gagal D-IV, gagal STAR BPKP, gagal seleksi KPK bahkan gagal seleksi sebagai jabatan seperti yang anda lakukan sekarang (baca: angkat telpon) 😁

    Sampai jadi AR pun sudah mencapai puncak juga, walopun bukan everest… 😜
    3 besar Kanwil dan 50 besar nasional tahun 2014,….

    Tapi apa semua itu ada baiknya untuk saya? Hampir 6 tahun masih di kantor yang sama, bahkan ada beberapa teman yang hanya 2-3 tahun sudah pindah tanpa prestasi yang membanggakan,

    Ah sudahlah ntar malah jadi tambah panjang lagi ceritanya padahal cuma mau komen kalo tulisan anda kali ini yang mencerminkan kondisi beberapa orang di instansi tercinta ini termasuk saya dan anda…

    Salam dari seorang AR tanpa ambisi yang biasa-biasa saja,
    Bangun, ngantor, main, pulang, tidur 😊

  23. Hampir 3 tahun saya pulang kandang. Selama itu juga saya terus meratapi nasib. Jauh dari hingar bingar kota besar, jauh dari prestasi yang bisa dibanggakan, bekerja sebagai penjaga toko. Walaupun saya percaya kalau hidup sudah ada yang mengatur, tapi saya tetap bersikukuh untuk menolak apa yang ada. Terima kasih Mas, tulisan Sampeyan meneguhkan saya bahwa dari dasar sumur pun masih ada setitik cahaya. Contohnya Sadako. Sekarang dia jadi semakin tenar bahkan sekuel film layar lebarnya barusan rilis.

    Tetap menulis ya Mas! Tuhan memberkati!

  24. Saya terharu. Angkat topi akan keikhlasan memberikan jalan kepada orang-orang tersayang untuk melesat. Karena di sisi lain, sendika dawuh dari Ibu menjadi pegangan yang menguatkan. Tetap sabar dan semakin bijak, Mas Farchan! :)

  25. Aah, andai saya tau siapa mas Farchan sebenarnya. pasti ga akan saya permudah urusannya. biar saya punya banyak waktu untuk dapet ilmu dan kisah inspiratifnya. haha…

    saya selalu suka tulisannya mas. semoga sukses terus dan bermanfaat bagi orang banyak.

    kapan kopdar ke UIN mas? atau saya harus mampir ke Zein nih?

TINGGALKAN KOMENTAR