Selain soal investasi dan finansial, pembahasan yang selalu ada dan hangat adalah soal kepemilikan properti terutama rumah tinggal. Kepentingan untuk memiliki rumah tinggal ini akan berbanding lurus dengan banyak pertimbangan yang ada, mulai dari dana, kebutuhan hingga prioritas.

Namun, memilih rumah itu adalah proses yang harus dipikirkan matang-matang. Bisa dibilang gampang-gampang susah. Bisa jadi gampang tetapi bisa jadi susah. Setiap orang bahkan bisa mendapatkan pengalamannya sendiri-sendiri. Kapan lalu kawan saya membagi postingannya di Instagram bahwa perlu lima kali upaya sampai akhirnya bisa membeli rumah. Kelima upaya itu berbeda-beda masalahnya, ada yang KPR ditolak, ada yang sudah setuju tetapi banjir, ada yang bangkrut developernya, macam-macam pokoknya.

Memilih rumah memang jadi perjuangan masing-masing, semua bisa melakukan dengan usaha, upaya dan hambatannya sendiri-sendiri. Saya jadi ingat dari apa yang saya lakukan, mencari rumah dengan budget seminimal mungkin tetapi sestrategis mungkin. Sebuah hal yang mustahil pada awalnya, tetapi bisa dilakukan.

Pencarian rumah tersebut saya lakukan pada 2014, tiga bulan usai menikah. Dana tabungan yang saya miliki hanya cukup untuk DP rumah. Belum terpikir bagaimana bisa mendapatkan dana untuk biaya lain-lain seperti PPN, BPHTB hingga biaya notaris. Pencarian demi pencarian dilakukan, survey demi survey dilakukan secara berkala demi mendapatkan rumah yang cocok. Hingga akhirnya saya bertemu dengan rumah yang seharusnya sudah terjual tetapi KPR-nya ditolak oleh bank. Oleh developer saya diperbolehkan takeover dengan cepat asalkan mau mengurus KPR dalam tempo seminggu, dan tentu saja itu yang saya lakukan, mengurus KPR dalam waktu seminggu dan lolos.

Walau seperti rejeki yang datang tiba, tetapi pembelian rumah pertama tersebut memang sudah terencana. Mulai dari survey area, harga, akses hingga perkiraan pengembangan di masa yang akan datang. Pertama kali memang area, kecenderungan saya untuk menggunakan transportasi publik menjadi pertimbangan pertama saat memilih rumah. Sebisa mungkin akses rumah tersebut dekat dengan stasiun KRL, akses yang paling cepat untuk ke kantor.

Harga jadi masalah yang kedua, dengan dana yang dimiliki saat itu tentunya kami tidak bisa mendapatkan rumah di area pengembang besar. Pada akhirnya saya memilih untuk membeli rumah di kompleks kecil yang terdiri dari 10 rumah, semuanya keluarga muda. Beruntung, kompleks ini dekat dengan kompleks kepolisian, dari sisi keamanan setidaknya jadi lebih terjamin.

Lantas, akses rumah juga sangat mudah. Setidaknya untuk akses kendaraan pribadi hanya perlu lima menit untuk sampai pintu tol. Yang sebenarnya paling nyaman di rumah pertama saya adalah pengembangan wilayah. Dalam kurun waktu lima tahun, sudah ada MRT Jakarta yang bisa dicapai dalam waktu lima belas menit, lalu pengembang besar membangun jalan besar penghubung yang rupanya mempersingkat jalur dari cluster saya ke pintu toll, mall, pasar dan area utama Bintaro.

Keempat parameter tadilah yang saya jadikan sebagai acuan. Jadi meskipun ketika mendapatkan rumah pertama pasca menikah adalah rumah kecil saja, setidaknya dari parameter-parameter tersebut saya memiliki panduan untuk memilih rumah.

Saya belajar satu hal, memilih rumah adalah proses yang membuat saya bertumbuh. Memahami konsep properti sebagai hunian rupanya adalah satu kesatuan holistik. Tak hanya soal hunian, melainkan bagaimana kenyamanan, akses, lingkungan, hingga kesempatan untuk mengembangkan hunian itupun harus dipikirkan. Seyogyanya saat membeli rumah, tidak bicara sekarang, tetapi masa depan, karena rumah akan dihuni bertahun-tahun ke depan.

Ada hal yang bisa lebih dilakukan dengan lebih mudah di zaman sekarang. Survey bisa dilakukan secara online karena internet telah memberikan banyak kemudahan. Salah satunya adalah mengakses situs Rumah.com. Saya harus jujur bahwa situs ini membantu banyak sekali saat kala itu mencari rumah.

Apa istimewanya?

Bagi saya, situs Rumah.com bukanlah sekadar direktori. Artinya user tak hanya masuk, mencari rumah yang diinginkan lalu transaksi. Tidak, bukan seperti. Lebih dari itu semua Rumah.com adalah satu kesatuan yang lengkap untuk pencarian rumah. Tentu saja direktori ada, tetapi istimewanya juga di rumah.com terdapat banyak panduan lengkap untuk memilih rumah.

Semisal baru pertama kali hendak mencari rumah, di Rumah.com listing sudah tersedia banyak sekali, tinggal filter sesuai keinginan. Mau difilter harga, lokasi, fitur rumah semuanya bisa. Tambahannya adalah selain cari listing, di rumah.com terdapat info-info mengenai panduan keuangan, jadi pembeli bisa mempertimbangkan aspek keuangan. Jika bingung tentang harga, ada panduan indeks harga rumah, jadi bisa membandingkan rerata harga rumah yang wajar di suatu daerah, lengkap dengan ulasan fasilitas, akses, dan perkembangannya di rumah.com/areainsider.

Tak hanya itu saja, di rumah.com/panduan-properti terdapat juga informasi seluk beluk legalitas kepemilikan rumah. Sehingga pembeli bisa mempertimbangkan aspek legalitas tentang properti yang akan dibeli. Fitur lain yang bisa jadi bermanfaat adalah ulasan wilayah. Dengan panduan ini, pembeli bisa mempertimbangkan lokasi dan area mana yang akan dipilih untuk membeli properti. Ingat bahwa faktor lokasi ini bisa menjadi pembeda yang signifikan terkait harga, kenyamanan dan prospek di masa yang akan datang.

Saya akan menyarankan bagi para pencari rumah untuk mengulik-ulik situs rumah.com. Bisa jadi apa yang selama ini ditanyakan, dipertimbangkan, dipikirkan ada jawabannya di situs ini. Saya bisa bilang bahwa informasi, fitur dan layanan rumah.com ini termasuk yang lengkap dan komprehensif, jadi segala info terkait rumah bisa dicari bermodal internet dari situs ini. Andaikata-pun masih ada pertanyaan, bisa tanya langsung lewat media sosial rumah.com yang juga sering berinteraksi dengan follower.

Kalau masih bingung berapa kisaran harga rumah yang mampu dibeli, tinggal masukkan berapa pendapatan dan berapa lama mau mencicil, di sini. Nanti ketahuan berapa plafon KPR yang dapat dipinjam. Perkara rumah memang pelik, akan membutuhkan banyak energi juga dana, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Jika sudah ada tools-tools memudahkan seperti rumah.com sebaiknya digunakan semaksimal mungkin.

Saya sendiri membuktikan, meskipun tampaknya mustahil, upaya-upaya membeli rumah itu sebenarnya menyenangkan. Saya jadi belajar banyak juga memiliki banyak informasi yang memperkaya. Sehingga kelak, ketika akan berinvestasi dalam sektor properti lagi, semua pengalaman saat mencari rumah tersebut akan jadi bermanfaat.

Oh iya, perjalanan rumah kami juga tersimpan dalam kumpulan Cerita Rumah di rumah.com/ceritarumah bersama cerita-cerita rumah yang lain. Mungkin dari semua cerita itu ada yang bisa menginspirasi.

Satu lagi soal mencari rumah. Mencari rumah adalah berkejaran dengan waktu, jadi perlu dipikirkan juga momen dan waktunya. Ayo ambil langkah, mulai dari baca-baca dulu juga bagus supaya tahu apa yang perlu dicari.

Selamat mencari rumah.

Tabik


Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here