IMG_4330

Warung nasi goreng ini tak bernama, kaki lima, letaknya pun tak mencolok, mungkin kadang diabaikan sambil berlalu begitu saja. Di bawah papan nama Universitas Bung Karno warung tak bernama ini berada, di seberang jalur layang kereta Cikini, yang beberapa waktu lalu penuh drama penggusuran pedagang parcel, restoran ini buka setiap setelah senja sampai malam. Memang tidak ada nama, di kain penanda yang sudah lusuh hanya bertuliskan “Pondok Nasi Goreng” dengan sajian menu dibawahnya, Nasi Goreng, Kwetiauw, Mie Goreng, sangat sederhana.

Tapi, warung ini menjadi favorit saya dan pacar. Kami selalu njujug ke warung ini, pertamanya karena lapar seusai nonton di Megaria, nama Indonesia untuk bioskop Metropole yang dibangun pada tahun 1932. Lalu akhirnya warung ini menjadi warung kesukaan kami, menjadi tempat kami istirahat sejenak dari penatnya Jakarta, melarikan diri dari riuh rendah jalanan yang bisa membuat orang kehilangan kesabaran.

Kami tak tahu siapa nama pemilik warung ini, mereka suami istri. Si bapak dari Kediri, kalau si ibu, saya lupa entah dari Temanggung atau Wonosobo, kalau tidak salah Wonosobo. Mereka berdua berbagi tugas, si ibu membuat racikan dan menyajikan ke pengunjung dan si bapak yang memasak. Saya masih ingat waktu pertama kali kesini saya tertarik dengan ajakan si ibu “Mari lho mas monggo mampir..” dengan logat jawa super medok. Apa saya chauvinis ketika saya langsung membuka obrolan dengan si ibu dengan bahasa jawa setiap kali saya makan disini? O, bagi saya itu tunggu dulu. Bagi saya ini bukan sikap chauvinistik, lebih dari itu. 

Di warung ini saya terpaksa menggunakan bahasa kromo inggil karena si ibu dengan halus mengajak ngobrol saya dan pelanggan yang lain dengan bahasa kromo inggil, alus. Bagi saya ini oase, di tengah-tengah Jakarta yang makin buas, makin jahanam, makin menggerus nilai-nilai kemanusiaan seseorang, dimana umpatan, teriakan kemarahan adalah menu sehari-hari di jalan.

Disini saya menemukan ketenangan, menemukan sebuah hal yang sangat halus, menemukan bahwa ada kelembutan di tengah liarnya Jakarta yang makin kasar. Semacam kerinduan ketika di kampung dulu. Saya melembut dengan bicara “Bu, nuwun sewu, kula nyuwun nasi goreng setunggal, pedese sedeng nggih bu.” Dan Jakarta terasa makin lembut ketika si ibu menjawab “Nggih mas, pesen menopo malih?”.

IMG_4335

IMG_4333

IMG_4332

Saya tumbuh besar dalam keluarga yang mengajarkan untuk mencintai masakan-masakan olahan kaki lima. Di keluarga, saya dibesarkan untuk canggung dengan restoran. Bapak dan ibu lebih memilih mengajak saya ke warung kaki lima, walaupun saya tahu penghasilan bapak sebenarnya sangat cukup untuk mengajak kami sekeluarga ke restoran paling mewah di Magelang waktu itu. Tapi Bapak dan Ibu memilih membesarkan saya dengan membuat nyaman makan di warung kaki lima daripada di restoran ternama.

Pun senada dengan pacar saya, dia pun tampak lebih nyaman dan menikmati makan di warung kaki lima daripada di restoran. Terkadang kami lebih lahap makan di pinggir jalan dan kepanasan berteman desing deru kendaraan di jalanan daripada di dingin restoran dengan sajian super mewah dan lengkap. Ini bukan soal karena tidak punya uang, kami punya uang untuk makan di restoran, tapi entah kenapa kami merasa saat maka di restoran ada “jarak” antara kami dengan makanan, dengan restoran itu sendiri, dengan koki dan dengan perasaan makan yang kami alami sendiri.

Pondok Nasi Goreng Cikini ini mengajarkan bahwa “jarak” itu bisa tidak ada. Suatu kali kami bertemu dan semeja dengan para eksekutif muda, atau dengan seorang Batak yang datang sekeluarga. Kadang kami juga bersama dengan satpam gedung sebelah yang tampak kuyu sepulang kerja. Ya, karena tempatnya sempit, mau tak mau kami harus berbagi meja dengan pengunjung lainnya. Dan disini keberagaman itu ada, berbaur dan duduk semeja menyatu menikmati nasi goreng yang sama. Terkadang terlibat obrolan seru sesama pengunjung, walaupun kami, para pengunjung tidak kenal satu sama lain.

IMG_4328

Pesanan saya tak jauh dari nasi goreng atau kwetiauw, sementara pacar menggemari mie goreng. Nasi gorengnya sederhana sekali, sesederhana bapak dan ibu pemilik warung. Tapi justru kesederhanaan ini yang membuat kami makin mencintai warung ini. Tidak ada bumbu yang berlebih, tidak ada daging di tiap suapan, kecuali suwiran daging kecil-kecil sebagai topping. Seperti halnya orang Jawa kebanyakan, sajian disini sepertinya menyesuaikan lidah orang Jawa, manis kecapnya terasa di lidah.

 Saya tak hendak bicara soal rasa, Karena bicara soal rasa akan sangat subyektif sekali. Bagi saya rasa nasi goreng disini pas di lidah, bumbunya harum, digoreng pas, dan menggugah selera. Tapi bagi saya pribadi, rasa nikmat akan berlipat karena saya merasa nyaman makan disini. Pengalaman yang menyentuh hati akan membuat rasa nasi goreng ini semakin nikmat.

Bagaimana tidak semakin nikmat jika si ibu selalu tersenyum saat menyambut dan melayani pelanggan, si bapak pun demikian, dia selalu berkomunikasi dengan pengunjung, mencoba memberi apa yang pengunjung. Dan mereka bukan berbasa-basi, mereka memang tulus bicara dengan pengunjung. Saya menikmati bahwa rasa nasi goreng ini bukan hanya rasa di lidah saja, juga rasa yang saya rasakan di lubuk hati. Nasi goreng ini pesan dari pembuatnya, pesan yang ramah dan nikmat, pesan bahwa masih ada setitik ruang untuk menjadi humanis di Jakarta, pesan bahwa dengan nasi goreng sesederhana ini ada 2 insan yang saling mencintai yang berjuang bersama di Jakarta.

IMG_4338

Kami pernah merasa sangat kehilangan saat warung ini tutup beberapa waktu. Pasalnya trotoar tempat Pondok Nasi Goreng ini dibongkar. Sebulan – dua bulan saat saya ke Jakarta warung ini selalu tutup, saya bilang ke pacar. Mungkin mereka digusur dan kami akan kehilangan sebuah oase penghiburan di Jakarta. Tapi rupanya saya salah, di bulan ketiga saat saya sedang di Garut, pacar mengabari dia sedang makan nasi goreng sepulang kuliah. Ternyata oase ini ditakdirkan masih ada. Saat kembali kesana lagi, saya tanya si ibu kenapa tutup, apa digusur, si ibu bilang “Kolo wingi, kulo balik kampung mas, sekalian nenggo trotoare niki rampung didandani”

Akhirnya kami bolak-balik kesini lagi. Jika sedang bingung mau makan apa di Jakarta, kami selalu kesini. Pun juga jika kami sudah lelah dengan segala kepalsuan Jakarta, kami kesini, menemui 2 sosok yang tak pernah lelah tersenyum tulus pada tiap tiap pengunjung yang datang. Kami pun turut gembira menikmati Nasi Goreng atau Kwetiaw dan Mie Goreng dengan lahap, segembira Bapak dan Ibu saat ada pengunjung yang datang.

Tapi warung ini tak pernah sepi pengunjung. Suatu kali bahkan kami harus menunggu sampai lebih dari 5 pesanan. Warung ini selalu ramai, entah pesan di tempat atau dibawa pulang. Mungkin senyum tulus bapak dan ibu pemilik warung yang membuat pengunjung tak henti datang kemari. Saya kira demikian. Ketika kami datang, setelah sekian lama kami tak kesini, si ibu masih hafal dengan kami dan menyambut kami dengan pipi berseri, “Lho mas, monggo pinarak, kog sampun dangu mboten mriki.”

Pada akhirnya bagi kami sesungguhnya makan emplek-emplek di pinggir jalan asal menemukan warung yang pas itu sangat menyenangkan. Dan kami tidak hanya menikmati rasa pada masakan, jauh dari itu, kami menemukan “rasa” yang lain yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Bapak dan ibu Pondok Nasi Goreng mengajarkan makna yang lebih dalam dari sekedar makna enak sepiring nasi goreng. Harga menu disini boleh hanya Rp 10.000,00 per porsi, tapi apa yang kami dapatkan disini berjuta kali lipat dari nominal yang kami bayarkan.

Saya merasa bahwa walau tak bernama, Pondok Nasi Goreng ini sangat bermakna bagi kami berdua. Kami selalu tersenyum saat datang, dan tersenyum lebih lebar saat pulang. Dan di warung ini, Jakarta terasa masih sangat lembut, selembut bapak dan ibu penjual yang mengantar kami berdua meninggalkan warungnya dengan kalimat sederhana “Matur nuwun mas, ngatos-atos, mangkih kapan-kapan mampir malih”.

Tabik.

Lokasi : Persis di samping pintu gerbang bangunan Rektorat dan LBH Universitas Bung Karno Cikini, atau dikenal dengan Fakultas Hukum UBK. Di sebelahnya ada warung kopi. Atau jika dari Metropole, keluar bangunan lalu berjalan ke kanan.

Tangkapan layar penuh 16122013 120848.bmp

Ket :

Njujug : sebuah istilah jawa untuk langsung menuju ke lokasi. saya tak bisa menemukan padanan kata yang pas di bahasa Indonesia.

Bu, nuwun sewu, kula nyuwun nasi goreng setunggal, pedese sedeng nggih bu. : Permisi Bu, saya minta nasi goreng 1, pedasnya sedeng.

Nggih mas, pesen menopo malih? : Ya mas, pesan apalagi?

Kolo wingi, kulo balik kampung mas, sekalian nenggo trotoare niki rampung didandani : Kemarin saya balik kampung mas, sekalian menunggu trotoarnya selesai diperbaiki.

Lho mas, monggo pinarak, kog sampun dangu mboten mriki? : Lho mas, silakan, kog sudah lama ga kesini?

Matur nuwun mas, ngatos-ngatos, mangkih kapan-kapan mampir malih : Terima kasih mas, hati-hati, nanti kapan-kapan mampir lagi.

Follow Efenerr on WordPress.com

8 KOMENTAR

  1. ya ampun mas, aku juga sering banget kesini dulu
    Bapak sama ibunya ramah banget
    ini bahkan tempat ngedat pertama bareng orang yang sekarang jadi suami hahaha

    Udah lama gak kesini karena lagi mengurangi goreng2an. Duh jadi laper kaaann….

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here