Tangkapan layar penuh 10032014 73031.bmp

 

Tangkapan layar penuh 10032014 71502.bmp

 

Tayang di Harian Republika edisi 9 Maret 2014, Rubrik Jelajah halaman 5. Editor : Nina Chairani

Teks Lengkap

Tiga jam bermobil dari Mataram, Lombok,  saya sampai ke desa ini: Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Desa Bayan terletak di garis pantai utara Lombok, lokasinya seolah berada pada sebuah ceruk, tepat di tengah antara lautan di utara dan garis pegunungan Rinjani di selatan.

Di desa yang hijau itu, saya menemukan alur hidup yang  sangat lambat dan menenangkan. Alam  seolah bersenandung riang menaungi masyarakat Bayan yang agraris. Petani-petani Bayan pun berangkat ke sawah berteman desau angin, kicau burung dan lambaian pepohonan di hutan sekeliling desa.

Keingintahuan yang kuat membimbing langkah saya bertamu ke masyarakat adat Bayan, yang sering disebut orang Bayan. Mereka teguh menjalani filosofi adat Bayan, Watu Telu. Filosofi ini yang mewarnai denyut kehidupan sehari-hari mereka.

Filosofi Wetu Telu

“Banyak orang yang salah tangkap tentang Wetu Telu Bayan” kata Raden Sawinggih. Tokoh pemuda Bayan itu menjelaskan, kesalahan utama pemahaman orang luar adalah anggapan bahwa penghayat Wetu Telu hanya menunaikan shalat tiga waktu dalam sehari. “Itu salah besar, banyak orang mengartikan //wetu// sebagai waktu, padahal bukan itu, kata dia.

Lebih jauh lagi, anggapan umum bahwa Wetu Telu adalah agama tradisional asli yang hanya ada di Bayan.  Raden Gedarip, salah seorang pemangku adat Desa Bayan, yang saya temui di kediamannya di Dusun Karang Salah, Desa Bayan, meluruskan anggapan itu.“Wetu Telu itu adalah filosofi dasar orang Bayan, ini pedoman hidup, bukan agama. Agama kami ya Islam, kami Muslim, shalat kami ya lima waktu, katanya menegaskan.

Wetu Telu lebih dimaknai sebagai aturan adat yang berfungsi menjaga kehidupan masyarakat lebih teratur dan tenteram. Aturan-aturan agama Islam dan aturan adat, ungkap mereka, saling melengkapi, bukan saling menyelisihi. Dengan ini orang Bayan memiliki panduan untuk jiwa, pun untuk kehidupan duniawinya.

Terma Wetu Telu dalam pemahaman orang Bayan juga sering disebut dengan Sesepan yang kira-kira jika dalam bahasa Indonesia berarti diresapi. Ini terkait dengan filosofi Wetu Telu sebagai sesuatu yang harus diresapi dengan benar oleh penghayatnya. Inti dari Wetu Telu adalah pemahaman akan tiga unsur utama dalam hidup manusia. Raden Gedarip lantas menjelaskan, filosofi Wetu Telu bisa dipahami dari tiga siklus hidup utama manusia,  //metu// (beranak), //tioq// (tumbuh), dan //menteloq// (bertelur). Prinsip Wetu Telu juga bisa diartikan tiga unsur pemberi hidup manusia, yaitu Allah (Tuhan),  //imaq// (ibu),  dan //amaq// (ayah).

Tecermin dalam rumah adat

Agar memahami Wetu Telu dalam kehidupan sehari-hari, Sawinggih menyarankan saya mengawalinya dengan kunjungan ke rumah adat Bayan. Rumah-rumah di Bayan mayoritas mengarah ke arah utara dan selatan. “Utara itu laut, Selatan itu Rinjani” Kata Raden Gedarip, menjelaskan tentang arah utara dan selatan yang merupakan penghormatan untuk lautan lepas dan Gunung Rinjani, dua tempat yang dianggap sakral di arah utara dan selatan Desa Bayan.

Ada beberapa rumah adat di sudut-sudut desa, saya mengunjungi salah satu di antaranya. Rumah adat di sini hanya untuk para pemangku adat Bayan dan keturunannya. Pemangku adat biasanya juga orang yang ditinggikan atau bangsawan, mereka dan keturunannya yang berhak menyandang gelar raden di depan namanya.

Rumah adat Bayan merupakan satu kompleks yang biasanya dipagari kayu di sekelilingnya dan terdiri dari beberapa bagian. Biasanya bagian paling depan adalah halaman yang cukup luas dan terdapat beberapa beruga. Beruga adalah semacam balai-balai dari kayu yang utamanya digunakan sebagai rapat adat, jamuan makan sampai pelaksanaan upacara adat.

Bagian inti rumah adat yang terdiri dari rumah utama dan kemudian dapur yang terpisah dari rumah utama. “Setiap keputusan penting dalam hal adat lahir di beruga, beberapa upacara adat penting pun dimulai di beruga, jelasRaden Gedarip.

Semua rumah adat Bayan dibangun dari susunan batu, uniknya batu-batu yang digunakan adalah batu bulat yang pipih dan disusun sedemikian rupa. Bukan fondasi batu umpak yang lazim ditemui di pedesaan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sementara atapnya terbuat dari ilalang yang tumbuh di area lereng gunung Rinjani. Bentuk atapnya berbeda dengan rumah adat Suku Sasak yang menjadi atap khas Lombok.

Jika atap suku Sasak sedikit tinggi dan melengkung, bagian atap rumah adat di Bayan runcing segitiga, terbentuk dari silangan rangka atap pada bagian puncaknya. Di bagian terpisah dari rumah adat biasanya juga terdapat lumbung padi yang disebut geleng. Lumbung padi ini dibangun dalam bentuk Beruga panggung berukuran kecil dan dipancang tinggi untuk menghindari serbuan binatang pengganggu seperti tikus. Geleng tersebar di penjuru desa, padi biasanya disimpan setiap sehabis panen, sebelum memasukkan padi ke geleng, si pemilik padi akan melakukan sedikit ritual sederhana dan rapalan doa-doa.

Rumah-rumah di Bayan dibangun mengikuti aturan adat, perawatan berkala seperti penggantian atap atau dinding pun harus mengikuti aturan adat, renovasi, dan perbaikan rumah adat harus dilakukan pada bulan-bulan tertentu yang sudah ditentukan. Bahkan dalam setiap detail kecil ini pun, orang-orang Bayan tidak bisa melepaskan aturan adat yang jadipedoman hidup mereka.

Saat Adat Menjaga Hutan

Ucapan Raden Sawinggih langsung melekat di benak saya. “Desa ini tak pernah kekurangan air, adat menjaga hutan kami, hutan kami menyediakan mata air sehingga air terus mengalir dan desa ini tetap lestari.” katanya sebelum saya melakukan perjalanan ke Hutan Adat Mandala.

Bayan memang masih dikelilingi hutan yang masih hijau dan menjadi sumber anugerah air yang berlimpah bagi masyarakatnya, hutan-hutan ini merupakan hutan adat yang dijaga benar keberadaannya oleh masyarakat Bayan. Tak hanya masyarakat Bayan yang menerima berkah air dari keberadaan hutan ini desa sebelah, Senaru juga menerima berkah air berlimpah dan tak pernah habis di musim kering. Sepasang air terjun di Lombok, Sendang Gile dan Tiu Kelep yang lokasinya berada di batas desa Bayan dan Senaru, mata airnya berada di dalam hutan adat Bayan.

Hutan Adat Mandala ada di tengah-tengah desa, dikelilingi persawahan sejauh mata memandang. Hutan adat yang luasnya kira-kira 1,3 hektare memiliki tiga mata air di tengah-tengahnya. Masyarakat adat sejak dulu menyadari pentingnya hutan untuk penghidupan desa, oleh sebab itu hutan ini dilindungi terus menerus, turun-menurun. Hutan ini dilindungi dengan sistem adat sehingga setiap masyarakat Bayan mau tak mau harus tunduk pada aturan adat untuk menghormati dan menjaga keberadaan hutan. “Tidak ada yang berani macam-macam di hutan mas, masyarakat sudah sadar sendiri” imbuh Raden Sawinggih.

Masyarakat Bayan menjaga hutan dengan awiq-awiq atau aturan adat. Awiq-awiq yang dibuat untuk menjaga hutan mencakup tentang pengelolaan hutan adat dan juga sumber mata air di dalamnya. Di dalamnya juga terdapat larangan dan sanksi bagi yang melanggarnya. Sanksi adat ini macam-macam, mulai dari ringan sampai berat, mulai dari denda seperti satu ekor kerbau sampai sanksi sosial yang berat yaitu dikucilkan dan tidak diakui lagi sebagai bagian dari masyarakat adat. Selain dibekali dengan aturan adat, masyarakat juga membentuk sistem pengamanannya sendiri. Dengan aturan adat, ada orang-orang yang kemudian diangkat dan diberi jabatan adat sebagai pemangku hutan sampai penjaga dan pengatur mata air.

Terbukti dengan awiq-awiq tentang hutan ini masyarakat terus menghormati keberadaan hutan di Bayan. Hutan di Bayan masih terjaga lestari, hijau, masih rimbun dan penuh pohon besar berusia ratusan tahun dengan sulur-sulur akar yang kekar mencengkeram tanah. Kelestarian ini kemudianlah yang menjaga keberlangsungan air yang membawa kemakmuran bagi masyarakat Bayan.

“Saya ingin, anak-anak kami nanti memandang Wetu Telu sebagai sebuah kebanggaan dan Wetu Telu akan terus menjaga filosofi yang menjaga hidup mereka kelak,  Raden Sawinggih mengucap kalimat perpisahan, yang mungkin mewakili suara anak muda Bayan di akhir perjalanan.

Masjid Bayan Beleq

Bayan terkenal dengan Masjid Bayan Beleq. Masjid kayu ini konon merupakan masjid pertama yang ada di Lombok dan dibangun sekitar abad ke-16-17 Masehi. Hanya para pemuka agama dan pemuka adat Bayan yang diizinkan shalat di masjid ini.

Masjid Bayan Beleq hanya dibuka pada saat-saat tertentu. Menurut cerita, Islam masuk ke Lombok dibawa para mubaligh era Wali Songo dari Tanah Jawa melalui Bayan. Teori ini kemudian berkembang untuk menjelaskan mengapaketurunan pembesar Bayan menyandang gelar raden di depan namanya.

 Menuju Bayan

Bayan terletak sekitar 3 jam perjalanan dari Mataram, bisa melalui Pusuk ataupun Senggigi menuju arah Senaru. Susuri saja jalan provinsi di garis pantai utara Lombok sampai bertemu Kecamatan Bayan. Lokasi Desa Bayan kurang lebih 3 kilometer dari pusat kecamatan dan 2 kilometer dari pintu gerbang menuju Gunung Rinjani, Desa Senaru.

Follow Efenerr on WordPress.com

5 KOMENTAR

  1. […] Tayang di Harian Republika edisi 9 Maret 2014, Rubrik Jelajah halaman 5. Editor : Nina Chairani Teks Lengkap Tiga jam bermobil dari Mataram, Lombok, saya sampai ke desa ini: Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Desa Bayan terletak di garis pantai utara Lombok, lokasinya seolah berada pada sebuah ceruk, tepat di tengah antara lautan […] Lebih Lanjut […]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here