Pontianak, 2013

Saya masih ingat bagaimana fragmen ketika pertama kali bersua. Saya dengan kaos lusuh, wajah belum bercukur, menggendong tas ransel 60 liter dan sepatu yang buluk karena debu jalanan. Ia dengan seragam kantornya yang rapi, jilbab yang licin serta wajah yang bersih dengan senyum lebar.

Kala itu saya baru saja menyelesaikan perjalanan dari Sumatera, menemuinya untuk pertama kali. Gugup, grogi sampai keringat dingin begitu deras mengucur ketika menatapnya, bahkan ketika bersalaman pun saya gemetar tiada henti. Kala itu 4 tahun yang lalu, demikianlah cara kami untuk pertama kali bertemu.

Lantas kami menjalani masa-masa bersama, 4 tahun lamanya. Betapa 4 tahun penuh pergulatan dan gejolak. Ia dengan darah Minang-nya yang kental, sementara saya adalah orang Jawa tulen. Dari 2 hal mendasar yang begitu berbeda ini saja, kami harus berjuang untuk menjembatani, harus ada ruang toleransi dan saling memahami satu sama lain.

Dulu saya begitu minder apabila bertemu dengannya. Ia seorang mahasiswa berprestasi, peringkat 11 dari sekian ribu mahasisa akuntansi, jurusan paling bergengsi di tempat kuliah saya. Saya 2 tahun lebih tua, seniornya, sementara ia adalah junior saya. Begitulah akar persamaan diantara kami, sama-sama menikmati kuliah di kampus yang penuh kambing.

Ia seorang analis, pendebat yang tak mau kalah, penghitung yang baik tapi selera humornya buruk, susah sekali untuk tertawa. Makanya saya harus susah-susah jika ingin mencandainya, harus berpikir keras. Ini membuat saya bingung, mau membuat orang tertawa saja saya harus berpikir, duh.

Kepadanya saya kenalkan dunia traveling itu seperti apa. Ia, awalnya tidak suka traveling. Sering was-was jika saya tinggal traveling lama. Pernah saya tinggal hampir sebulan di 2011, praktis saya tak bisa menghubunginya karena tiada sinyal sepanjang perjalanan. Ketika untuk pertama kali menghubunginya setelah mendapat sinyal, ia menelepon dengan menangis, kangen, begitu katanya.

Saya kenalkan apa itu perjalanan, dari dekat sampai jauh. Ia tidak mengeluh ketika tidur di bandara, ia bisa tidur nyenyak di dormitory 16 tempat tidur, ia tabah berjubelan di angkutan panther yang penuh penumpang ketika kami berdua menjelajahi Sulawesi Selatan.

Padanya saya jujur, bahwa saya tak bisa menjanjikan kemewahan dalam hidupkan. Saya hanya bisa menjanjikan kelegaan hati dan kesempatan untuk berjuang dari awal. Padanya saya utarakan visi masa depan, bahwa kami berdua harus berjuang sendiri dari nol, mandiri, tak bergantung lagi pada kedua orang tua kami.

Ia mengerti. Ia bukan pengeluh, ia pembesar hati untuk saya. Karena ia-lah saya mampu mengenyahkan lelah, jatuh bangun dalam pekerjaan. Karena ia pulalah saya menjadi orang yang lebih sabar.

Kami berdua harus menunggu. Tuhan pun tahu, tapi Tuhan minta kami menunggu, persis kata Tolstoy. Ada benarnya karena kami berdua bisa punya sedikit ruang yang sedikit lapang sebelum menjalani hidup baru berdua. Kami harus menunggu keluarga menerima perbedaan adat dan budaya kami, karena kata orang pernikahan adalah soal bagaimana 2 keluarga menerima asal-usul yang sama sekali berbeda.

Kami juga harus sama-sama menunggu untuk menyelesaikan studi, rasanya luar biasa, setiap malam bergantian menyemangati ketika mengerjakan tugas sampai ke skripsi.

Padanya saya memanggil Hidung Bulat, jika saya panggil demikian dia akan cemberut lalu mencubit-cubit. Ia selalu protes saya bukan pria yang romantis. Saya memang akui demikian, saya pria yang logis, bukan romantis. Buat saya cinta tak bisa ditunjukkan dengan seikat mawar merah, tapi lebih ke sikap dan perhatian.

Tapi rupanya hati perempuan memang perlu disentuh dengan hal-hal romantis, maka sebulan sebelum tulisan ini saya beri ia seikat mawar, itu untuk pertama kali setelah 4 tahun saya bersikap romantis padanya.

Hidung Bulat ini terlahir pintar, saya pun mengaguminya. Ia tak bisa dan tak mau diganggu saat belajar. Maka saya dorong ia untuk terus belajar. Tak apa, ia memang unggul di situ. Ia harus terus maju. Dan kami berjanji bersama-sama. Pada sebuah  tatap muka kami sempat berjanji untuk berjuang bersama-sama.

“Adek nanti kuliah S2 ya? Luar negeri ya mas ya?”

“Iya. Daftar sana!”

“Tapi mas nanti bagaimana?”

“Nanti mas ikut adek, di sana kerja, cuci piringlah, nyopir truk lah, apa lah. Cuti Di Luar Tanggungan Negara”

“Mas ga sekolah lagi?”

“Nanti abis adek selesai, mas baru sekolah”

“Janji yaaa…”

“Insya Allah…amin”

Saya merasa cocok karena ia tidak muluk-muluk memandang hidup, juga bukan orang yang gengsian. Saya merasa tentram, maka saya berjanji dalam hati harus menjadi pelindung dan sosok terbaik untuknya. Ia yang akan saya jaga seumur hidup saya.

Maka hari ini, siang tadi saya menggenapkan janji padanya, setelah 4 tahun kami saling menjajaki satu sama lain. Ia yang sudah saya pilih untuk saya lindungi, ia yang saya pilih untuk menggenapkan agama kami, ia yang menjadi pelengkap untuk tulang rusuk yang hilang. Pada akhirnya ia yang mendampingi.

Ia, Putri Nur Ayyini.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

38 KOMENTAR

  1. Bagi bujangan piyambakan seperti saya ini, Tulisan ini bagaikan kompor dengan nyala api yang begitu biru…

    Aku kapan yo, iso nulis tulisan ‘persembahan pendamping’ koyo mene?

  2. Kok gak ada lagunya GIGI (bukan istri Raffi – red) yang lirik awalnya berawal dari facebook…hehe.

    Selamat bro…
    Semoga keluarganya selalu asik…
    Aamiin.. 🙂

  3. Waaah siapa bilang kamu tidak romantis mz? Tulisanmu ini romantis sekali! Hahaha… Kamu tunjukkan ke dunia bahwa dia adalah putri dalam hidupmu. Persis seperti namanya. Salut.

    Semoga bahagia dunia akhirat! Aamiin. 😀

  4. Selamat, selamat, saya selalu terharu tiap membaca tulisan seperti ini. Selamat menapak hidup baru yang penuh warna. Bahagialah mas Ef & nyonya 🙂

  5. Wah, aku terharu..terutama di bagian kuliah S2,, sweet… 🙂

    Btw, selamat ya chan..semoga selalu berbahagia..mau kaya, miskin, sehat, sakit, yang penting bahagia.. 😉

  6. aduhh romantisnya..gak nyangka ya wajah sangar hati melankolik,heheh..betapapun itu selamat yaa atas babak baru kehidupan yang akan dijalani,..semoga Sakinah Mawaddah Warohmah

  7. Kaaak.. Selamat sekali lagi yaa.. Kamu beruntung bangeet dapet istri macem kak Putri yang debes. Kece dan pinter. Jangan disia2 kak. Bismillah, samara. Aamiin. 🙂

  8. Tulisan menyiratkan ungkapan hati yang tulus dan jujur. Sangat menyenangkan membacanya! Selamat sekali lagi.

  9. waduhh…waduhh.. kisahnya, bikin pengin ni mas, tapi masih masa pencarian (kerja). doakan ya mas. Dan Selamaat mas….

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here