Setiap hari berangkat dan pulang kerja berkereta ada satu pemandangan yang selalu saya temui, kursi prioritas yang diduduki bukan oleh yang berhak duduk di kursi tersebut. Tak hanya di kereta, hampir di setiap tempat yang memiliki kursi prioritas masalahnya sama, di stasiun, di bandara, di transjakarta, di tempat-tempat umum, orang-orang umum seenaknya saja duduk di kursi prioritas.

Apakah entah masalah atau tidak, tapi bagi saya ini kesalahan pola pikir terkait kursi prioritas.

Barangkali banyak yang tidak tahu sesungguhnya penggunaan kursi prioritas itu seperti apa dan siapa yang berhak menggunakannya. Bisa jadi juga tidak mengindahkan petunjuk atau tidak membaca dengan jelas tulisan kursi prioritas.

Padahal sudah cetho welo-welo di tiap papan kursi prioritas pasti ada simbol siapa yang berhak duduk di situ yang biasanya adalah orang sepuh, ibu yang membawa anak kecil, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Mereka memang harus diistemewakan, harus diberikan tempat di kursi prioritas.

Sayangnya banyak yang cuek bebek dan dengan begitu santai duduk begitu saja.

Sikap seperti ini memang sikap penghormatan yang buruk tentang hak-hak orang lain. Saya menulis ini bukan untuk bicara hak dan kewajiban sebenarnya, tapi menunjukkan realita dan bagaimana berpikir tentang memperlakukan kursi prioritas itu seharusnya seperti apa.

Apa kejadian yang paling sering terjadi terhadap kursi prioritas? Pastilah penyerobotan kursi prioritas oleh mereka-mereka yang tidak berhak menempati kursi prioritas, lalu duduk manis dengan santai di kursi prioritas.

Fragmen yang terjadi ya selalu seperti ini. Orang biasa duduk santai di kursi prioritas, lalu datang orang yang masuk dalam kelompok orang yang seharusnya menempati kursi prioritas dan harus minta ijin ketika ingin duduk di kursi prioritas. Lha ini kan lucu, padahal seharusnya itu memang kursi untuk mereka, tidak usah minta ijin toh harusnya tidak apa. Justru orang biasa yang duduk di kursi prioritas harusnya yang minta ijin ke yang berhak. Amati saja, kejadian ini banyak terjadi.

Bahkan saya pernah menemui kejadian yang hampir berujung keributan ketika ada penumpang yang sedang tidur di kursi prioritas diminta berdiri karena ada ibu hamil yang seharusnya duduk di sana. Si penumpang meminta si ibu hamil mencari kursi lain, si ibu hamil tidak mau yang pada akhirnya berakhir penumpang tersebut marah, bersungut-sungut saat memberikan kursi prioritasnya pada si ibu hamil.

Hal seperti ini kan seharusnya tak terjadi. Jika sama-sama menyadari apa sih kursi prioritas itu. Atau yang sederhana saja deh, jika mau membaca dan mencerna simbol dan tulisan di kursi prioritas.

Apakah kemalasan membaca? Kurang empati? Atau apa? Saya tidak tahu.

Saya sendiri bersikap jika ada yang sifatnya prioritas tak akan menggunakannya untuk saya, itu hak orang lain, tak seharusnya saya merebut hak orang lain. Kalau kosong? Ya biarkan kosong, bukan lantas karena kosong lalu jadi pembenaran untuk kita duduki.

Lho kan kosong? Kita bisa duduk, nanti kalau ada penumpang yang berhak ya kita kasih kursinya.

Logikanya begini.

Ibaratkan saja kursi prioritas ini rumah yang sudah ada pemiliknya. Ketika ada pemiliknya tentu kita tak boleh masuk tanpa seijin pemilik. Kalau kosong juga sama saja, tidak lantas menjadi pembenaran untuk masuk ke rumah orang lain kan?

Masa iya karena rumahnya kosong, lalu kita masuk ke rumah, tinggal di sana, lalu ketika pemiliknya datang baru kita keluar? Ya tidak bisa begitu. Itu berarti kita tidak menghargai properti orang lain.

Begitu juga kursi prioritas. Kosongnya kursi priorias bukan berarti legitimasi kita untuk duduk di sana, kursi itu sesuai penggunaannya, haknya diberikan kepada golongan orang yang duduk di kursi prioritas. Bukan ke penumpang biasa.

Itulah kenapa saya tak pernah mau duduk di kursi prioritas, sekosong apapun kursinya.

Dan hemat saya memang kursi prioritas memang seharusnya kosong kan. Disiapkan untuk mereka yang seharusnya duduk di kursi tersebut. Tidak diduduki penumpang umum.

Lho kenapa gitu? Ya memang bukan hak saya duduk di kursi itu kan.

Yang jadi miris adalah kemudian, banyak orang yang sebenarnya cukup berpendidikan dan tahu itu kursi prioritas tapi cuek bebek. Lalu ketika diingatkan marah. Mungkin kalau mau secara khusus melihat ini, silakan cek di tempat umum, lalu lihat orang-orang yang duduk di kursi prioritas seperti apa.

Pada akhirnya ini jadi masalah etis dan tidak etis. Bagi saya menyerobot kursi prioritas bukan sikap etis, bukan juga sikap yang baik.

Lalu bagaimana? Idealnya adalah kita semua memang menghormati kursi prioritas, menghormati orang yang berhak duduk di atasnya. Lebih ideal lagi jika mau membela hak orang-orang tersebut.

Tapi jika tidak mampu, sikap paling sederhana yang bisa dilakukan adalah bicara pada diri sendiri untuk tidak duduk di kursi prioritas walaupun kursinya sedang kosong. Ingat-ingatlah bahwa kursi prioritas diperuntukkan untuk mereka yang berhak duduk di atasnya, bukan untuk penumpang umum.

Atau jika memang tetap menganggap tidak apa-apa duduk di kursi prioritas walaupun bukan haknya, silakan dengan penuh kesadaran berdiri dan berikan tempat duduknya kepada yang berhak jika yang berhak duduk di kursi prioritas datang. Jangan menunggu ditegur orang lain.

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

10 KOMENTAR

  1. Ya Tuhan ini terjadi pada saya hampir setiap hari 😀
    Saat ini saya lagi hamil 8 bulan, Senin sampai Jumat pasti naik kereta Serpong – Palmerah untuk ke kantor. Jangankan kursi prioritas dalam KRL yang penuh sesak, kursi tunggu prioritas di peron saja pasti sudah banyak yang dudukin entah itu laki-laki, atau mbak-mbak yang kayanya sih ga hamil ya. Hehe.. mau minta izin duduk juga kadang sungkan. Malas gitu rasanya. Alhasil saya seringnya sih iseng berdiri depan mereka dengan perut menonjol, pingin tau reaksinya. Seringnya sih, kebanyakan cuek saja, tapi ada juga sih yang langsung sadar diri dan berdiri tanpa diminta. Oh ya, btw, jangankan kursi prioritas, jalur keluar dan masuk untuk keluar stasiun saja banyak yang suka salah ambil lajur kok. Di Serpong, tangga jalur untuk naik dipake turun dan sebaliknya. Padahal tulisannya besar sekali “MASUK” dan “KELUAR” di atas bisa terlihat dengan mata telanjang dari jarak 3 meter. Hahaha.. Padahal apa susahnya jalan di lajur yang benar? Kadang suka pingin jadi security stasiun dan pingin negur orang-orang itu, deh. Atau minimal pingin nanya, “Mbak/Mas, ga bisa baca tulisan sign di atas kah?” Asli ga paham. :)))

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here