Penuh kolesterol ya?

Bagi saya, kalau jalan-jalan tanpa icip-icip kuliner itu rasanya dosa besar. Masa iya pergi traveling tapi ga mencoba makanan khas suatu daerah? Permasalahannya adalah kadang kulineran ke suatu daerah itu jadi ga terkontrol, makanan-makanan serba eksotis adalah dua hal, antara kenikmatan atau bencana berupa kolesterol.

Misalnya saat ke Padang, bagaimana tidak tergoda menyantap makanan ala minang dengan kuah santan yang menggoda? Atau saat ke Medan, siapa yang tak mau menyantap durian di warung durian Ucok yang melegenda? Mau tak mau, saat pergi ke suatu daerah pasti akan menyantap kulinernya.

Dan itulah yang saya lakukan, jalan-jalan sekaligus kulineran. Dalam sebulan ini bahkan saya sudah ke Padang, Bangka dan Makassar, tiga tempat yang terkenal dengan kuliner-kulinernya. Karena memang tidak nikmat tanpa kulineran saat traveling. Sejak dulu mencoba telaten untuk mencatat daftar tempat makan yang akan saya kunjungi saat traveling dan harus makanan lokal.

Intinya adalah, sesibuk apapun traveling, harus ada slot waktu untuk menyicip kuliner lokal. Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang dan tak terhitung sudah berapa kuliner lokal yang saya santap. Bagi saya, kuliner lokal adalah pengganti landmark suatu tempat.

Namun, kebiasaan santap kuliner ini mulai sekarang harus saya perhatikan baik-baik. Tidak asal makan, namun mulai melihat porsi kandungan dalam kuliner yang saya santap. Ternyata tidak semua makanan bisa dikonsumsi dalam jumlah banyak, sebagian harus dibatasi.

Lho kenapa? Karena beberapa kuliner lokal bisa memicu kolesterol.

Saya awalnya tak percaya, ketika saya pulang dari Manado beberapa waktu lalu saya merasa pusing dan berat, juga badan rasanya berat untuk bergerak. Dengan kondisi seperti ini saya akhirnya konsultasi ke dokter dan cek kolesterol saat ada acara Gerakan Jantung Sehat bersama Nutrive Benecool. Well, hasil cek darah normal kok kolesterol saya, tapi rada di ambang batas atas, sekitar 205. Anjuran dokter hanya dua, banyak olahraga dan jaga makanan.

Wah! Jika dokter sudah bilang demikian saya tak bisa membantah. Saya lalu mengevaluasi pola hidup. Ternyata selama ini saya cukup banyak bermalas-malasan, kurang gerak dan cenderung bergerak saat perlu. Pola seperti inilah yang justru berbahaya untuk kesehatan, pola hidup dengan penuh kemalasan ini disebut pola hidup sederhana, pola hidup yang menurut WHO berbahaya dan harus dihindari. Olahraga adalah cara termudah menangani pola hidup sedentari.

Soal makanan awalnya agak sedikit sedih, bagaimana jika makanan saya dibatasi? Tak mungkin lagi dong menikmati makanan lokal saat traveling? Ternyata tidak gitu-gitu amat kok, yang penting jaga makanan dan perhatikan sinyal tubuh karena tubuh memiliki mekanisme yang akan memberitahu jika kolesterol sudah mendekati ambang batas.

Maka sekarang saat traveling saya dengan cermat melihat kandungan makanannya, apakah mengandung kolestrol atau tidak, bagaimana proses memasaknya dan volume makanannya. Dengan beberapa kategorisasi ini maka saya bisa menjaga makanan saat traveling, tetap bisa makanan khas di daerah dan tetap fit.

Sebagai tambahan, saya juga meminum minuman penurun kolesterol. Cari sana cari sini, saya cocok dengan Nutrive Benecool. Saya beli satu paket isi enam botol dengan rasa Blackcurrant, Strawberry, Orange & Lychee. Minuman dengan kandungan SE-Plant Stanol Ester yang terbukti bisa menurunkan kolesterol ini mulai menjadi minuman pendamping yang saya minum dua kali sehari.

Makanya kemarin ketika di Makassar saya bawa terus Nutrive Benecool, ketika makan Coto, Pallubasa hingga Konro Karebosi yang serba lemak, tiada masalah kolesterol. Ketika di Makassar saya iseng cek kolesterol lagi dan berada di angka 160-an. Lumayan jauh di bawah ambang batas.

Selain menjaga makanan dan minum Nutrive Benecool. Saya tambah porsi waktu berolahraga. Melawan gaya hidup sedentari memang bisa dilakukan dengan memperbanyak olahraga, juga banyak-banyak aktivitas di kantor.

Soal kolesterol dan gaya hidup sedentari ini saya jadi ingat konsultasi dengan dokter, saya diminta mengurangi beberapa item makanan seperti item, daging merah, gorengan juga kacang-kacangan. Karena kolesterol saya masih dalam batas aman, mengonsumsi beberapa makanan tadi tetap dibolehkan namun dalam jumlah moderat, mutlak jangan berlebihan.

Setelah beberapa lama kombinasi menjaga pola makan, olahraga dan minum Nutrive Benecool, angka kolesterol saya berhasil turun drastis. Transformasinya sukses, badan menjadi lebih segar dan enteng.

Kini saya tak perlu khawatir, tetap bisa menyantap makanan khas kok saat traveling, tetap bisa menyicip citarasa lokal nan aduhai karena saya sudah tahu bagaimana melawan kolesterol. Intinya jangan kalap, jaga makan.

Ternyata saya yang selama ini berpikir kolesterol saya baik-baik saja, sekarang harus mulai menjaga makanan, mulai melihat asupan makanan, jangan segala makanan khas harus disantap, namun pilihlah yang paling mewakili dartah tersebut. Gitu kan?

Nah, yuk mulai melihat kapasitas diri, tubuh biasanya memberi sinyal jika kolestorol mulai naik. Dengan mengatur pola makan, olahraga dan minum Nutrive Benecool, patilah kolesterol tak akan jadi masalah.

Tabik.

Untuk informasi lebih lengkap tentang gaya hidup sehat dan menghindari gaya hidup sedentari, silakan cek di kanal social media Nutrive Benecool : InstagramTwitterFacebook.

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here