Takdim bersandar pada mesin backhoe, di sekelilingnya sampah. Gurat mukanya tampak lelah, beberapa kali ia menyeka peluh. Masih mengenakan rompi oranye, Takdim diam dan tampak berat menghela napas.

Digantang siang yang panas seharian, Takdim baru selesai mengerjakan pekerjaannya.

Bergulat dengan sampah adalah kegiatan sehari-hari Takdim. Beserta rekan-rekannya yang lain, Takdim menyusuri jalanan Jakarta menuju titik di mana ia bekerja membersihkan kota.

Di Penggilingan, Takdim adalah satu dari sekian banyak petugas kebersihan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Mereka bertempat di shelter-shelter yang dijadikan markas para petugas kebersihan, katakanlah itu adalah control room para petugas kebersihan.

Shelter Penggilingan adalah sebuah shelter kecil yang terbagi menjadi beberapa area. Sebuah bangunan semi permanen yang menjadi tempat istirahat sekaligus administrasi. Ada papan nama yang tulisannya sudah terkelupas, tempat minum yang terserak, sebuah rice cooker dan beberapa meja kursi.

Beberapa petugas kebersihan tampak duduk-duduk istirahat. Beberapa lainnya tampak sibuk memilah sampah.

Saya membayangkan kerja berat mereka, apalagi di bulan puasa. Tentunya kerja makin berat sementara jam kerja tidak berkurang.

Soal itu Takdim ternyata berbeda pikiran. Baginya puasa sama seperti hari biasanya, tetap bekerja keras, ia tak merasa lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya. Takdim tetap berusaha dan bekerja seperti biasanya.

Memang bagi umat muslim Ramadan adalah berkah, di bulan ini pahala dilipatgandakan, dosa-dosa terampunkan. Setiap tantangan di bulan Ramadan adalah amalan. Orang-orang akan berlomba-lomba dalam kebaikan, orang-orang akan berusaha keras mendapatkan ampunan.

Saya lalu berpikir bagaimana Takdim dan teman-temannya saat bulan Ramadan? Apakah bisa menikmati santap sahur dan menikmati sajian buka puasa seperti yang saya nikmati.

Saya tak berani bertanya pada Takdim.

Setengah jam saya berbincang dengan Takdim, saya lalu menuju tempat yang dijadikan tempat pengumpulan sampah. Di sini sudah berkumpul banyak orang, para petugas kebersihan bersama keluarganya.

Tak lama kemudian mobil dari Perusahaan Gas Negara atau PGN datang, mobil hitam ini membawa paket bingkisan untuk buka bagi para petugas kebersihan di Shelter Penggilingan. Mendadak mobil lalu dikerubungi orang-orang seperti idiom ada gula ada semut. Di dalam mobil terdapat paket makanan yang akan dibagikan untuk para petugas kebersihan di Shelter Penggilingan, termasuk untuk Takdim.

PGN sudah mencatat nama-nama para petugas kebersihan berikut keluarganya yang berhak. Sebenarnya untuk acara pembagian paket buka ini, PGN telah menyediakan 1000 paket yang akan di distribusikan di  5 shelter kebersihan sekitar Jakarta Timur.

Sabaruddin, sebagai Sales Area Head PGN Jakarta beramah tamah, Ia mengucapkan terima kasih atas jasa petugas kebersihan, juga menyampaikan bahwa paket buka ini adalah wujud terima kasih dari Perushaan Gas Negara yang langsung disambut dengan senyum lebar para petugas kebersihan.

Segera paket berbuka tersebut dibagikan, penuh hiruk pikuk, kebahagiaan yang sederhana terwujud dalam senyum para petugas kebersihan. Sebuah contoh kebahagiaan yang tidak dibuat-buat.

Sejak ditetapkan sebagai perusahaan negara pada tahun 1965, hingga kini PGN terus berjibaku untuk melayani kebutuhan energi masyarakat Indonesia. PGN terus mengembangkan produknya dalam sektor gas bumi yang aman, praktis, ramah lingkungan serta ramah dikantong yang dikenal dengan nama GasKita. Produk ini bisa menjadi solusi yang tepat untuk keperluan memasak skala rumah tangga ataupun  usaha kecil semua lapisan masyarakat.

Tak hanya terus berusaha memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi masyarakat terkait produk gas buminya, namun juga dalam berbagi kebaikan di bulan Ramadan. Sebagai perusahaan gas terbesar di Indonesia, saya kira PGN memberikan contoh baik dalam menebar kebaikan. Alih-alih menggelar acara seremonial, PGN justru terjun langsung ke masyarakat yang memang membutuhkan dan merangkul para pejuang yang selama ini mungkin terabaikan di jalanan ibukota.

Saya kembali pada Takdim, ia menerima sebuah paket berbuka puasa yang kemudian Ia simpan untuk berbuka kelak.

Saya lalu kembali berbincang dengannya. Beberapa temannya masih hilir mudik mengerjakan tugas. Motor roda tiga pengangkut sampah masih bolak-balik ke tempat penampungan sampah.

Takdim mengabdikan dirinya untuk kebersihan Jakarta. Di usia yang sudah lebih setengah abad dia tekun menyusuri jalanan. Dia berjuang keras untuk istri dan anak-anaknya.

Sosok Takdim adalah sosok tangguh di ibukota, rela bekerja apa saja, ia lakukan semua demi hidup keluarganya. Delapan tahun menjadi petugas kebersihan, ia lakukan dengan tekun.

Ada senyum malu-malu di raut keras mukanya. Ia menggengam erat paket buka dari PGN. Walau sederhana, baginya ini penghargaan yang luar biasa, Ia merasa bahwa ada perhatian lebih pada dirinya, Ia merasa tak lagi dipandang sebelah mata.

Memang menjadi petugas kebersihan adalah jalan sunyi. Mereka setiap hari mengarungi jalanan kota, terjun ke sungai, terkadang sampai larut malam. Tak banyak orang yang menyadari tugas dan kinerja mereka.

Takdim dan teman-teman sejawatnya mungkin tidak setiap hari menyantap makanan seperti ini. Dengan paket buka dari PGN ini setidaknya bisa menghapus lelah seharian berjibaku dengan sampah.

Paket buka yang diadakan PGN ini tak berhenti sampai di Shelter Penggilingan. Takdim-takdim yang lain menerima paket yang sama di empat shelter lain yaitu shelter PIK Penggilingan 2, shelter I Gusti Ngurah Rai, shelter Cakung Barat, dan shelter Gunung Sahari. Seluruhnya, seribu paket akan diberikan pada pahlawan kebersihan Jakarta.

Ramadhan ini memang bulan yang luar biasa, manusia menemukan cara untuk berbagi dengan orang lain, manusia melipatgandakan amalnya dengan saling berbagi kebahagiaan.

Saya kembali teringat Takdim. Usia lima puluh lima tahun bukan usia muda, di tubuhnya yang kurus, ia menjalani hari demi hari, ia memasang diri demi kebersihan Jakarta. Saya kira, Jakarta tak akan bersih tanpa tangan-tangan seperti Takdim. Merekalah yang menjulurkan tangan, membereskan apa yang biasanya orang lakukan, buang sampah sembarangan, buang kotoran seenaknya, merusak fasilitas umum, mengotori jalanan.

Tangan Takdim yang sehari-harinya penuh peluh, kali ini dijabat erat oleh PGN. Takdim tersenyum dengan wajah bahagia yang sangat sederhana.

Tabik.

Foto : Widi.

 

Follow Efenerr on WordPress.com

4 KOMENTAR

  1. Semoga si bapak sehat terus, aamiin…
    Jadi merasa bersyukur banget masih ada bapak bapak seperti pak takdim yang dengan iklas masih mau bersih bersihin sampah sedangkan disisi lain ada saja yang masih buang sampah sembarangan.

    Semoga amal perbuatan pak takdim terus ngalir juga..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here