Menteri Keuangan dan Penerima UMi. Sumber foto: Kementerian Keuangan

Di depan kompleks rumah saya ada penjual bubur ayam Cirebon. Penjualnya memang dari Cirebon, suami-istri semuanya asli Cirebon. Mereka berdua seperti orang dari daerah kebanyakan mencoba adu nasib di Jakarta, si bapak pernah mencoba beragam pekerjaan dan usaha, si ibu-pun demikian adanya, pernah gulung koming mencoba banyak usaha. “Rejeki kami memang di bubur ayam” kata si Bapak.

Bapak, yang namanya tak mau dipublikasikan namanya setiap pagi sudah siap siaga dari jam enam pagi. Gerobaknya sederhana saja, dia berjualan di ujung gang sempit, tidak ada papan nama sebagai penanda, hanya sebuah baliho usang yang sobek-sobek sebagai penanda. Namun, jangan kira bubur ayamnya sepi, tidak demikian. Bubur ayamnya sohor sebagai salah satu bubur ayam di kawasan perumahan kompleks saya tinggal, buka jam enam pun antrian langsung panjang, ojek online sudah menyemut menunggu pesanan dan mereka berdua segera sibuk melayani hiruk-pikuk pembeli di bubur ayamnya.

Ada yang menarik dari Bapak-Ibu penjual bubur ayam Cirebon ini, mereka berdua justru tetap tegak di kala pandemi ini dan mampu mempertahankan omset dengan konstan. Benar adanya bahwa UMKM justru memiliki daya tahan yang kuat terhadap goncangan ekonomi, ibarat kata mereka terbiasa menimpa terpaan badai dalam berusaha dan itu memberikan mereka kekuatan untuk tetap bertahan di masa sulit.

Jika guru bangsa, Hatta bilang bahwa koperasi adalah sokoguru perekonomian Indonesia, maka di masa kini telah terjadi switching bahwa UMKM telah turut menjadi sokoguru perekonomian Indonesia. Dengan tingkat adaptasi pada masa sulit dan juga ketahanan untuk tetap menggerakkan ekonomi, para pelaku UMKM adalah jaring pengaman perekonomian Indonesia pada masa serba sulit ini.

Melongok pada bapak-ibu penjual bubur ayam Cirebon di depan kompleks, saya lalu turut melihat melalui kacamata yang lebih makro. Tentulah banyak sekali, ribuan bahkan jutaan UMKM telah turut bersama-sama menggerakkan ekonomi Indonesia, meski mungkin UMKM memang sering dianggap kontribusinya kecil secara angka, tetapi jika diibaratkan sapu lidi, para pelaku UMKM di Indonesia adalah sapu lidi yang saling menyatu dan menguatkan satu sama lain.

Namun, UMKM ini memiliki banyak tantangan untuk berkembang. Salah satunya soal permodalan yang mungkin bisa menjadi hambatan utama untuk melesatkan usahanya. Ketika saya bertanya kepada si Bapak Bubur Ayam, ia menjawab bahwa dulu pada saat membuka usaha, mereka berdua menggadaikan emas dan sepeda motornya untuk mendapatkan modal. Butuh waktu yang cukup lama untuk menebus kembali, menunggu usaha bubur ayamnya cukup laris.

Hanya saja tidak semua pelaku UMKM beruntung seperti mereka bedua. Banyak kemudian pelaku UMKM yang tidak memiliki akses terhadap permodalan, tidak bankable juga. Mungkin bisa dikatakan, boro-boro bankable, mungkin memiliki rekening bank pun belum tentu. Problem inilah yang kemudian menjadi salah satu tantangan UMKM di Indonesia dan kemudian Pemerintah melalui Kementerian Keuangan hadir dengan skema pembiayaan UMi atau Pembiayaan Ultra Mikro yang amanat pengelolaannya diberikan kepada unit Pusat Investasi Pemerintah.

Pembiayaan ini adalah model pembiayaan yang dikembangkan oleh Kementerian Keuangan melalui lembaga keuangan non-bank. Inisiatif ini muncul untuk menjangkau para pelaku UMKM yang tidak memiliki akses ke bank. Solusi ini memang kemudian jitu mengingat banyak sekali UMKM yang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan pinjaman ke bank karena tidak memiliki agunan, tidak memiliki struktur usaha yang pasti, tetapi yang jelas mereka butuh modal.

Karenanya sifat permodalan yang difasilitasi oleh skema kredit UMi juga bukan dalam nominal yang besar. Nominal maksimal kredit UMi maksimal sepuluh juta, angka yang cukup moderat untuk menambah permodalan para UMKM. Pun jangka waktu pinjamannya jangka pendek. Hanya saja karena sifat kredit UMi ini sebagai pendorong gerak laju UMKM, maka dalam setiap penyaluran UMi juga diberikan pendampingan pengembangan usaha untuk para UMKM agar para pelaku UMKM ini mampu mengembangkan diri, memiliki arus kas yang baik dan membuat kredit ini menjadi pendorong usaha mereka menjadi lebih produktif.

Saya jadi ingat salah satu kisah suksesn UMi sebagai bentuk solving problem permodalan para pelaku UMKM melalui mekanisme kredit UMi lewat publikasi langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam akun IG-nya. Dalam foto bertarikh 28 Januari 2022, Ibu Menkeu berpose dengan sahabatnya Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengenakan sepatu eLTa dari Jepara. eLTa merupakan salah satu UMKM yang memproduksi sepatu berbahan tenun dengan desain yang artistik. Saat mengembangkan usahanya, Muhammad Syukron Ali owner dari eLTa memanfaatkan kredit dari UMi untuk menambah permodalan usahanya. Kini, eLTa sudah cukup tersohor dan memiliki posisi yang baik sebagai salah satu pelaku UMKM tenun ikat dari Jepara.

Kepedulian pemerintah melalui program UMi ini terus dilanjutkan. Program UMi sendiri bukan program jangka pendek yang setahun-dua tahun hilang begitu saja. Sustainability merupakan hal yang dikedepankan dalam UMi, karenanya fasilitas kredit ini terus dikembangkan dan pelaksanaannya secara konsisten dilanjutkan sejak tahun 2017. Dari total nominal kredit, penyaluran UMi bukan main-main besarnya. Sebesar Rp 17,16 triliun nominal kredit telah disalurkan kepada total 5,1 juta debitur di 503 kabupaten/kota dari 514 di seluruh Indonesia.

Angka ini tentu bukanlah angka yang kecil, bukan angka main-main. Angka ini adalah bentuk kontribusi dan kepedulian pemerintah untuk turut menggerakkan perekonomian masyarakat lewat para pelaku UMKM. Tentunya premisnya sederhana, jika simpul terkecil bentuk entrepreneurship masyarakat yaitu pelaku UMKM bisa bergerak tentunya rantai ekonomi pun turut bergerak. Gerak laju ekonomi inilah yang kemudian akan mendorong kestabilan ekonomi dan penghasilan masyarakat.

Selain soal ekonomi, kesejahteraan adalah faktor lain yang ingin diraih oleh program UMi ini. Saya memiliki harapan besar pada program ini bahwa dengan skema program yang mudah dijangkau dan cakupan yang menyentuh akar rumput, maka fasilitas kredit ini akan memberikan ruang para pelaku UMKM untuk melakukan mobilitas sosial dan memperbaiki taraf hidup mereka.

Saya mengulik data penyaluran UMi yang dilakukan oleh Pusat Investasi Pemerintah dan mendapatkan data yang menarik bahwa 95% penerima UMi adalah para perempuan, dengan mayoritas batas pinjamannya cukup kecil yaitu di bawah Rp5 juta per pinjaman. Dengan kata lainya pembiayaan ini memang cukup tepat sasaran. Para perempuan selama ini banyak yang memang menjadi penopang perekonomian keluarga apalagi pada masa sulit seperti pandemi sekarang ini.

Dari data inilah jelas sudah bahwa fungsi UMi tak hanya sebagai kredit semata. Melebihi dari itu semua, justru UMi menjadi bagian dari pemberdayaan perempuan Indonesia. Bahwasanya saat ini perempuan Indonesia membutuhkan dorongan agar terus maju dan melaju. Bahkan melalui UMi ini kemudian para perempuan Indonesia pelaku UMKM bisa mengembangkan diri, mandiri, dan berdaya secara ekonomi.

Well, menyimak apa yang telah UMi lakukan kepada jutaan pelaku UMKM di Indonesia tidak bisa tidak saya memberikan rasa hormat yang luar biasa. Sebagai salah satu bagian dari Kementerian Keuangan pula, saya turut berbangga bahwa tempat saya bekerja turut menjadi solusi dan memberikan uluran tangan untuk mereka para pelaku UMKM di Indonesia. Tugas ini memang menjadi tugas bersama, tugas kita semua, tugas kita seluruh sungguh untuk turut mengembangkan UMKM Indonesia.

Fragmen tentang UMi dan UMKM Indonesia tentu masih ada banyak dan beragam manfaatnya telah diterima oleh para penerimanya. Harapannya tentu agar ke depan UMi tetap berjalan dan menjangkau lebih banyak lagi pelaku UMKM di Indonesia yang bisa memanfaatkan UMi untuk mengembangkan usahanya.

Karena UMKM yang maju, akan menggerakkan ekonomi dan mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia yang berdaulat.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here