Pojok tempat obrolan mengalir deras di kantor saya adalah Smoking Room. Mau perokok atau tidak, di Smoking Room segala macam hal dibicarakan. Bincang-bincang di Smoking Room kadang menjadi pelepas kebosanan.

Saya biasanya bergabung usai makan siang. Teman-teman lain bagian juga banyak yang bergabung, peduli merokok atau tidak seusai makan siang obrolan mengalir kencang. Terkadang juga ada yang menyeduh kopi. Ya, smoking room di tempat kami ada alat seduh kopinya. Waktu sejam istirahat siang, bisa digunakan untuk berbincang banyak hal. Karena kopi dan rokok konon satu paket yang tak terpisahkan.

Karena saking seringnya di Smoking Room saya sampai hapal rokok yang dihisap teman-teman. Mayoritas rokok putih, sebagian kecil saja yang menghisap kretek. Kadang ada juga yang berbagi rokok, coba satu dengan yang lain.

Anyway saya baru sadar ada yang lepas dari kebiasaan, seorang teman membawa rokok baru. Biasanya bawa rokok berbungkus warna putih, kali ini rokoknya berbungkus warna hitam, mereknya pun lain.

“Rokok baru Mas?” Tanya saya

“Iya nih nyoba, Lucky Strike Bold”

“Enak Mas?”

“Lumayan, rada enteng”

Saya lihat bungkusnya, ternyata ini rokok kretek, Sigaret Kretek Mesin. Ada filter di bagian ujungnya.

“Tumben Kretek Mas?”

“Ya, tapi kan bukan kretek berat to?” Sambung saya lagi

““Iya, ini kretek enak Chan, diisepnya enteng, mantab”

Teman saya memang biasanya menghisap rokok putih, jarang sekali kretek, bahkan sepanjang ikut nongkrong di Smoking Room tampaknya belum pernah melihatnya menghisap rokok kretek.

Bisa jadi ini pengalaman pertamanya.

Kopi dan rokok yang selalu ada di Smoking Room

 

Obrolan edisi siang ini ternyata bicara tentang beratnya kredit rumah. Teman-teman sekantor memang rata-rata baru memiliki rumah dan tentunya KPR. Berat sekali kalau bicara rumah di Jakarta, antara gaji dan keinginan tidak selaras.

Begini, saya sendiri menyadari bahwa di Jakarta susah sekali mendapatkan rumah dengan harga murah. Jikapun ada pasti aksesnya susah dan dengan kondisi-kondisi yang membatasi lainnya.

Mayoritas dari kami memang memilih membeli rumah di pinggiran Jakarta yang harganya terjangkau. Walau demikian ongkos transport untuk ke Jakarta juga lumayan. Untungnya jalur ke kantor ada banyak opsi, kantor juga menyediakan bis jemputan.

Soal memilih rumah, saya sendiri memilih rumah yang sekarang karena kemudahan akses saja. Dari rumah tinggal naik kereta dan dilanjutkan dengan Transjakarta, semuanya dengan angkutan umum. Jikapun naik kendaraan pribadi juga tak terlalu lama, satu jam sudah sampai kantor jika lewat tol. Atau jika naik motor saya butuh waktu empat puluh lima menit.

Kompleks perumahan mewah di Jakarta yang sedang dibangun

Jakarta memang semakin sesak dan rumah di Jakarta semakin mahal. Itulah kenapa kami para penghuni setia smoking mayoritas tinggal di pinggiran Jakarta. Kepada sesama teman yang ingin membeli rumah pun kami minta pikir-pikir dulu.

Rokok-rokok terus berhembus, kawan saya sudah menghabiskan dua batang Lucky Strike Bold. Obrolan semakin hangat dengan dinamika bahwa sekarang ini bahkan untuk KPR saja semakin ketat persyaratannya.

Benar memang, pihak bank sekarang terkesan hati-hati untuk menurunkan KPR. Mungkin karena banyak kredit macet, juga modus mengakali penghasilan demi mendapat KPR yang justru berujung gagal bayar.

Begini lho, di Jakarta rumah yang affordable dengan gaji kami itu susah sekali. Mungkin kalau mau di apartemen masih ada satu dua. Beberapa teman memang bisa membeli rumah di Jakarta tapi ya begitu, tidak ada akses mobil, berada di dalam gang, dan kondisi yang menyulitkan saat survey KPR.

Mau tak mau lama-lama teman-teman di kantor pun akan membeli rumah di pinggiran Jakarta.

Tapi kami semua sepakat bahwa jika bekerja di Jakarta memang harus segera membeli rumah yang menjadi properti sendiri. Jika tidak akan semakin sulit karena harga makin mahal atau kalau tidak ya akan jadi pengontrak terus menerus.

Well, obrolan panjang di sela-sela istirahat siang memang menarik. Sayangnya jam kerja sudah mulai lagi dan kami harus kembali. Teman-teman yang merokok memadamkan bara rokoknya satu per satu dan meninggalkan Smoking Room.

Saya melirik singkat bungkus Lucky Strike Bold yang ternyata sudah tandas dihisap oleh teman-teman. Rokok baru yang diam-diam mencuri perhatian dalam obrolan.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

11 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here