DSCF9559

Sampai sekarang saya masih terngiang bagaimana Masahiko Kitahara pemain trombon dari Tokyo Ska Paradise Orchestra melompat-lompat enerjik di atas panggung Sabtu kemarin. Alunan musik Ska yang kencang membuat penonton semakin menggila, seolah lupa bahwa para personal Tokyo Ska Paradise Orchestra adalah opa-opa.

Panggung terbuka ini adalah panggung paling ramai dan rancak di gelaran Java Jazz Festival 2016. Jika di panggung lain, penonton cenderung tenang, bergoyang pelan hingga bertepuk tangan. Maka di depan panggung Tokyo Ska Paradise Orchestre yang adalah keliaran, peluh keringat, penonton bergoyang pogo bersama-sama. Bagi saya ini adalah momen terbaik ketika saya menonton Java Jazz Festival 2016.

DSCF9449

DSCF9512

DSCF9500

DSCF9485

DSCF9523

Memotretnya pun penuh perjuangan, dengan penuh perjuangan saya merangsek dari bagian paling belakang menuju baris depan panggung. FujiFilm X70 tak pernah lepas dari genggaman dan begitu di depan saya gunakan untuk memotret aksi panggung personel Tokyo Ska Paradise Orchestra yang menggila.

Saya memang sengaja membawa FujiFilm X70 saat konser ini. Malas rasanya mengeluarkan kamera dengan lensa panjang, lebih ringkas membawa kamera kecil ini walaupun saya memang harus mendekat sekali ke arah panggung.

Tak hanya saya yang memotret, kamera ini bergantian saya gunakan dengan istri. Membawa kamera dengan lensa fix memang harus tricky, harus tahu momen-momen yang akan diambil, termasuk menentukan penampil mana yang akan dipotret, berbeda misalnya jika saya membawa lensa tele atau lensa panjang.

DSCF9573

Berbeda dengan Tokyo Ska Paradise Orchestra yang rancak, ketika sebelumnya saya berada di panggung Charlie Lim yang ada hanyalah kesyahduan. Charlie Lim tampil solo dan penonton pun terbuai dengan suaranya yang berat.

Solois muda dari Singapura ini tampil lugas dengan gitarnya lalu berganti dengan piano. Penonton tak banyak, kebanyakan duduk di lantai, tidak ada penonton berdiri. Menikmati Charlie Lim dengan begitu santai. Sembari bersenandung, Charlie Lim mampu membawa penonton melayang ke awang-awang. Tak heran aplaus panjang mengiring Charlie Lim saat berpamit mengakhiri pertunjukan.

DSCF9361

Keseruan juga ramai di panggung Chris Botti. Pemain terompet kelas dunia ini manggung di panggung yang besar, special show. Penontonnya banyak sekali, selain ingin menikmati permainan Chris Botti juga ingin mendengar suara emas Sting yang berduet dengan Chris Botti.

Di panggung ini saya jarang memotret, karena susah sekali, terlalu banyak pengunjung. Panggung besar sementara untuk merangsek maju rasanya susah sekali. Di arena ini saya bernostalgia dengan lagu-laguSting seperti Seven Days atau Magic.

Jika Jazz diibaratkan musik yang tenang dan santun, maka Badbadnotgood membawa Jazz yang urakan. Kuartet dari Kanada ini seolah tak ada rasa lelah seusai perjalanan dari Kanada, Singapura dan berakhir di Indonesia.

DSCF9391

Badbadnotgood tampil trengginas, musiknya fusion antara jazz, hiphop, rock dan elektronik. Penonton meloncat-loncat gembira, nadanya seolah tanpa aturan, tapi menyenangkan. Semarak sekali penampilan anak-anak muda dari Kanada ini.

Seolah Badbadnotgood membakar gairah para penonton. Jika biasanya orang-orang berbusana rapi, maka menonton Badbadnotgood lupakan busana rapi, kaos dan keringat adalah busana yang tepat.

DSCF9400

DSCF9411 DSCF9416 DSCF9417

Sejenak juga saya menikmati Patti Austin yang bermain di panggung super besar dengan anggota bandnya. Patti yang sudah lebih dari setengah abad menjadi penyanyi Jazz di Sabtu malam kemarin membawakan lagu-lagu diva Jazz dunia, Elle Fitzgerald. Di umurnya sekarang, suaranya sangat prima, lagu-lagu Elle Fitzgerald nyaris tanpa cela dibawakan di atas panggung.

Saya beruntung bisa menonton performa-performa musisi dengan keunikannya masing-masing. Soal foto, saya malah senang memotret dengan FujiFilm X70, tak repot-repot membawa, tak takut-takut kalau hendak bergoyang, tinggal digenggam, masukkan ke saku atau di kalungkan. Tidak ribetlah pokoknya, enteng.

Memang kembali ke tujuannya, Java Jazz Festival 2016 ini sangat longgar soal potret memotret, segala jenis kamera beserta lensa-lensanya boleh masuk ke venue. Sebuah kondisi yang membuat para stage photograper bergembira.

Buat saya, mendengarkan musik Jazz-lah yang utama, foto bagus adalah bonus.

Tabik.

Tentang FujiFilm X70

Thanks buat Mas Gathot Subroto IG : @gathoe18 untuk FujiFilm X70-nya.

Selfie dulu bareng Istri
Selfie dulu bareng Istri
Follow Efenerr on WordPress.com

26 KOMENTAR

  1. serius mas yang diatas sudah opa-opa yach? enerjik bangat, hehehe.. emang rekomen bangat berarti kamera fujifilm x-70 nya yach, foto nya ciamikkkk semua.

  2. Keren memang Fuji Film X70, warna dan asapnya bisa terlukiskan nyata dan memang bagus hasilnya…kapan yah punya Mirrorlens dari Fuji Film.. so kalau liat harganya emang harga bawa kualitas, po istilah Jowone Rego ngowo Rupo,,,hehehe

  3. Wahhh fotonya bagus nih! tp lensanya fix ya … pengalaman pake lensa fix, emang terkadang merepotkan walau hasilnya bagus haha.

    Btw settingannya apa aja nih? blm pernah pake mirrorless utk foto konser hahaha …

  4. aku ga prnh nonton java jazz krn memang musik jazz bukan fave ku samasekali :D.. tp stlh baca postingan ini, sepertinya fix aku kepengin beli kamera mirrorless fuji film ini!! ^o^ hihihii bgs2 bgt hasilnya mas..

  5. wah wah.. foto panggung yang pas! suka sama perpaduan warna & kejernihan warnanya kak,
    anyway pakai setingan apaan kameranya?
    pengen beli (kalau ada dananya 😀 )

  6. Wah keren hasilnya mas! kirain seri fujifilm yg ini seri mirrorless lensa detachable gtu, ternyata ini seri yg pocket ya?
    Lg kepikiran beli kamera mirrorless keluaran fujifilm jg krn banyak yg review positif termasuk di blog2 travel sebelah ihihi, tp liat harganya banyakan yg diatas 10jt-an gtu yak *mengais tanah!
    Sempet nemu beberapa web diskonan untuk kamera fujifilm macemnya di https://www.picodi.com/id/search/index/kamera%20mirrorless
    Tp sejujurnya siiih ms kurang referensi untuk seri fujifilm lainnya, mungkin mas ada pendapat ato pengalaman nyoba2 seri fujifilm yg lain. Saya mikirnya klo seri yg lensa standard detachable mungkin kece jg tp sapaaa tauuu seri yg pocket macem review yg ini ternyata bagusan yg pocket hihi ..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here