Rilisnya kamera mirrorless Fujifilm X-A5 benar-benar tak disangka-sangka, rasanya baru kemarin saya memakai Fujifilm X-A3 dan saya bawa ke mana-mana, eh kok sudah rilis seri barunya. Sebagai pemakai setia seri X-A sejak seri X-A1 maka saya pun segera upgrade ke seri X-A5 ini. Seri X-A memang menjadi seri favorit saya di antara line up kamera mirrorless Fujifilm. Bentuknya kecil, compact, ringkas dan enteng, konfigurasi ini pas untuk kebutuhan saya.

Tampaknya rilis Fujifilm X-A5 ini memang dibikin misterius, berbeda dengan seri X-A sebelumnya yang ada teaser-teaser, tiba-tiba saja seri X-A5 ini rilis. Setelah menggunakan seri X-A5 selama beberapa waktu, memang fitur-fitur barunya sangat mendukung untuk traveling.

Spesifikasi teknis

Secara teknis kamera mirrorless Fujifilm X-A5 memiliki sensor APSC-CMOS, 24 Megapixel dan yang baru adalah range ISO yang tinggi, sekarang bisa mencapai ISO 51200. Secara komparasi dibandingkan dengan seri X-A3 sepintas tidak ada beda, keunggulan Fujifilm X-A5 adalah memiliki range ISO lebih tinggi dibandingkan dengan seri sebelumnya.

Lensa Kit

Saat melihat pertama kali lensa kit di Kamera Mirrorless Fujifilm X-A5, impresi saya adalah, Ringkas! Ya, betul, apalagi jika dibandingkan dengan seri-seri XA sebelumnya menggunakan lensa kit XC 16-50mm f/3.5-5.6, lensa kit yang digunakan pada Fujifilm X-A5 adalah XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ. Lensa ini ukurannya lebih kecil dan lebih pendek dari lensa kit sebelumnya. Artinya, kamera ini lebih kompak dan ringkas untuk dibawa-bawa.

Lensa XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ juga memiliki kode PZ di belakang, artinya adalah Power Zoom. Ya, di lensa kit ini zoom-nya adalah elektrik, sehingga bentuknya menjadi lebih kecil dan ringkas. Tidak ada perubahan performa dengan menggunakan power zoom, justru lensa lebih ringan dibandingkan dengan mekanik zoom.

Kecilnya lensa ini bagi saya sangat signifikan karena bisa semakin meringkaskan barang bawaan. Tanpa perlu pakai tas besar, saya bisa langsung bawa kamera ini. Untuk ngevlog dan selfie juga cocok, karena ukurannya kecil jadi enteng dibawa ke mana-mana.

Autofokus 

Di kamera Fujifilm X-A5 ini autofokusnya ditanamkan fitur baru, hybrid autofokus, sistem ini bisa mendeteksi kekontrasan saat ingin melakukan fokus. Titik fokusnya pun lebih banyak dibandingkan seri sebelumnya, kamera mirrorless Fujifilm X-A5 memiliki 91 area fokus dalam grid 7×12.

Jika menggunakan lensa XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ maka autofokusnya bisa digunakan sampai dengan 5 cm pada objek foto. Bagi penggemar makro fitur autofokus ini membantu sekali untuk mengambil foto dari jarak dekat.

4K Video

Nah ini dia yang ditunggu, Fujifilm X-A5 sekarang mampu merekam 4K video (3840 x 2160) dengan maksimum frame rate yang bisa direkam adalah 15fps. Jadi bagi para traveler yang ingin membuat vlog atau video perjalanan, kamera ini sudah mengakomodasi untuk mengambil video 4K.

Timelapse

Fitur timelapse ini fitur yang paling saya suka di kamera mirrorless Fujifilm X-A5. Jika sebelumnya untuk membuat timelapse dari kamera X-A saya harus repot-repot “menjahit” di aplikasi foto, kini di kamera mirrorless Fujifilm X-A5 tidak perlu lagi, hasil timelapse bisa langsung jadi di kamera.

Hanya saja perlu diingat bahwa mengambil foto timelapse itu butuh waktu dan storage yang besar. Untuk timelapse yang saya ambil saja ini butuh 999 frame foto jadi perlu untuk memikirkan durasi pengambilan juga storage yang cukup.

Berikut ini video timelapse langsung dari kamera dengan Kamera Mirrorless Fujifilm X-A5.

Advance Filter

Selain film simulation yang menghasilkan tone warna khas Fujifilm, kamera Fujifilm seri X-A5 juga dikenal dengan advance filternya. Bagi yang suka foto-foto artsy dan ajaib, adakalanya bisa mencoba filter ini untuk eksperimen.

Yang baru dari kamera mirrorless Fujifilm X-A5 adalah filter HDR-Art yang akan langsung menghasilkan foto HDR dan yang berikutnya adalah Fog Remove, yang mana akan menghasilkan gambar yang lebih terang dengan tone warna lebih cerah.

Advance Filter Fish Eye

2,5 mm Audio Jack

Ini yang dinanti-nanti, dari dulu banyak sekali yang menanyakan pada saya tentang fitur ini. Seri XA sebenarnya seri entry level yang cocok dipakai untuk ngevlog. Bentuknya kecil ringkas, pun demikian LCD-nya bisa tilt 180 derajat. Sayangnya memang seri-seri dari XA1-XA3 tidak ada audio jack-nya, sehingga susah untuk menambahkan mic eksternal .

Di seri X-A5 sudah ada sekarang audio jack, jadi jika ingin menambahkan mic eksternal jadi sangat mudah untuk dilakukan. Namun, perlu diingat audio jacknya adalah 2,5 mm jika menggunakan jack 3,5 mm maka tinggal tambah dengan adapter saja. Dengan demikian kalau ingin ngevlog, tinggal colok mic eksternal tanpa perlu repot-repot lagi dan bisa langsung ngevlog deh.

Perubahan Menu

Kalau menyimak tombol menu, ada perubahan kecil di komposisi tombol menu pada kamera. Jika pada seri sebelumnya komposisi menu adalah C, M, A, S, P maka di seri X-A5 ini mode C pada menu kamera diganti dengan mode panorama. Jadi yang ingin memotret panorama, tinggal switch mode di menu yang ada di kamera tanpa perlu repot setting lagi.

Adanya menu ini menunjukkan bahwa segmentasi FujiFilm X-A5 akan lebih ke travel dan landscape. Memang benar sih, kamera ini cocok untuk dibawa jalan-jalan.

Testimoni Pribadi

Saya langsung menghajar kamera ini dengan membawanya ke Jepang saat musim dingin. Jika dulu ada idiom kalau suhu dingin kamera bisa membuat sensor macet, saya membawa Fujifilm X-A5 ke pegunungan dengan suhu -9 derajat celcius. Aman-aman saja dan lancar digunakan. Bahkan kamera saya gunakan untuk trekking di suhu -9 tersebut, beberapa kali jatuh terperosok dan kamera terselamur salju, nir masalah, cukup bersihkan saljunya dan kamera bisa digunakan lagi.

Bahkan kamera pernah jatuh ke salju dan tidak ada masalah.

Ketika digunakan untuk memotret objek yang overeksposure dan kontrasnya tinggi di daerah pegunungan salju autofokus bekerja dengan baik dan mendeteksi kontras dengan akurat. Ketika harus mengenakan sarung tangan tebal, saya tetap bisa mengakses menu dengan mudah, sebagai kamera entry level, Fujifilm X-A5 sangat memudahkan user.

1/320, f/9.0, ISO 200.
1/500, f/8.0, ISO 100

Selama di Jepang seluruh fotonya saya hanya ambil hanya dengan menggunakan lensa kit Fujinon XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ  untuk memotret lanskap, makanan, street foto sampai mengambil fragmen area Kanazawa dengan timelapse. Lensa ini mumpuni untuk digunakan sebagai lensa utama untuk traveling.

Street photo. 1/55, f/5.6, ISO 1600
Portrait. 1/350, f/3.5, ISO 2000

Seminggu setelah membawa kamera tersebut ke suhu dingin, saya membawa kamera tersebut ke Lombok Gili Air yang panas. Hal ini untuk mengukur ketangguhan kamera ini saat dibawa ke berbagai kondisi cuaca. Ternyata kamera ini juga tak ada masalah saat mengalami perubahan suhu, kamera lancar dan tetap responsif saat digunakan.

Sunset. 1/3, 40. f/8/0, ISO 200

Di Lombok dan Gili Air kebanyakan saya gunakan kamera untuk memotret lanskap, mulai dari sunrise hingga sunset. Poin khusus autofokus yang cepat saya rasakan saat memotret sunrise, kebetulan sunrise di Gili Air cepat sekali maka saya harus mengejar matahari yang berpindah dengan cepat, tanpa kesulitan saya tinggal memilih titik fokus yang diinginkan dan memotret mataharinya. Penambahan titik fokus ini bagi saya merupakan perubahan yang cukup signifikan karena bisa mengejar momen dengan cepat.

Sunrise. 1/110, f/22, ISO 200.

Dengan dua kondisi tadi saya sudah merasakan sendiri ketangguhan Fujifilm X-A5, ringkasnya juga praktisnya membawa kamera ini. Setelah saya bawa kemana-mana dalam satu bulan ini, kepraktisan yang ditawarkan oleh Kamera Mirrorless Fujifilm X-A5 ternyata menjadi nilai lebih. Selain itu dari sisi ketangguhan, saya tak perlu membuktikan apa-apa lagi jika ternyata kamera ini telah berhasil saya bawa di suhu dingin hingga cuaca panas tanpa ada hambatan apapun.

1/50. f/4.7. ISO 200

Saran

Kamera ini cocok bagi para traveler yang ingin menggunakan kamera mirrorless yang ringkas dengan fitur mumpuni. Dengan kamera ringkas seperti ini sangat ideal untuk mengambil foto selama perjalanan.

Kamera ini cocok juga bagi para vlogger dengan ditambahkannya slot jack 35 mm pada badan kamera, dengan tilt LCD yang sampai 180 derajat kamera ini juga memudahkan untuk pengambilan gambar.

Karena segmentasinya entry level, saya sarankan bagi yang ingin beralih ke mirrorless silakan coba fitur-fitur di kamera ini. Dengan harga 8 jutaan saya kira kamera ini sangat terjangkau untuk dimiliki.

Akhir kata, Terfujilah.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

22 KOMENTAR

  1. sempat coba kamera ini milik teman saat main ke Kota Tua Jakarta
    kaget dengan ‘power zoom’ itu, antara takjub dan kecewa. ahaahaa..

    oh iya, 15mm disini berasa kurang ketarik-tarik yah…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here