Saya dan istri adalah tipikal pejalan yang impulsif, kadang dengan spontan saja kami memutuskan jalan-jalan. Impusifnya kami adalah pilihan karena kami sama-sama bekerja dengan tingkat kesibukan yang berbeda, hingga terkadang amat sulit menemukan waktu senggang yang bebarengan. Itulah mengapa jika kebetulan ada waktu senggang walaupun sebentar kami bisa langsung secara impulsif pergi liburan.

“Minggu depan ke Bali aja, yuk!” kata istri

“Ha? Serius? jawab saya

Ya, serius, kenapa nggak? Mumpung belum ada agenda, kan?”

Terkadang semudah itu spontanitas untuk liburan dan sepanjang sudah sepakat, ya, kami dengan ringan akan langsung berangkat liburan.

Kalau model impulsif seperti kami, kadang tak terlalu banyak rencana, kami langsung bagi-bagi tugas. Saya urus tiket dan akomodasi, sedangkan istri urus barang bawaan kami. Urusan jalan-jalan dan itinerary dipikir nanti kalau sudah ada di tujuan.

Spontanitas bagi saya menyenangkan, walau kadangkala ada jengkel-jengkelnya juga.

Karena dadakan, saya langsung issued tiket pesawat pulang pergi dan penginapan dengan Traveloka yang biasanya jadi aplikasi andalan untuk beli-beli tiket di smartphone saya.

Tiket sudah beres, penginapan sudah di-booking, jadi saya bisa tenang dan melakukan persiapan lainnya. Suasana pecah ketika tiba-tiba istri bertanya,

“Ini bener tanggal 12 berangkatnya?”

Bener, kok”

“Bukannya tanggal 13?”

Eh, 13, ya?”

Duh, ternyata saya salah beli tiket untuk kami berdua. Apalagi, keberangkatan tinggal seminggu lagi.

Salah beli tiket

Tanya sana-sini dan Googling berbagai sumber, ternyata Traveloka memiliki fitur Easy Reschedule yang bisa saya gunakan. Awalnya, saya cek dulu di website-nya, membaca semua Q&A, serta syarat dan ketentuannya karena takut salah langkah. Setelah memahami semuanya, saya langsung coba untuk mengubah waktu keberangkatan kami berdua.

Nyatanya, sangat mudah apabila memesan tiket menggunakan aplikasi smartphone Traveloka. Saya tinggal masuk ke menu “My Bookings”, lalu “Manage Booking” dan lakukan reschedule. Setelah itu. saya tinggal cari penerbangan baru dan lakukan pembayaran untuk tiket berikut biaya reschedule.

Dan voila! Tiket dengan mudah sudah berganti menjadi tanggal 13 dan menerima email tiket yang baru dari Traveloka. Meskipun kena biaya adminstrasi 15 ribu rupiah karena saya mengubah jadwal penerbangan dalam negeri, buat saya, ini bukan masalah. Kemudahan mengubah jadwal di Easy Reschedule membuat saya tutup mata mengenai biaya tambahan. Daripada saya harus ribet telepon CS maskapai atau datang ke kantornya, kan?

yay! berhasil!

Setelah reschedule, kami pun melenggang dengan tenang ke Bali sesuai rencana. Lalu, ke mana saja kami saat di Bali? Karena tidak ada rencana dan tidak membuat itinerary, maka yang jelas, kami segera meluncur ke penginapan dan beristirahat terlebih dahulu, baru setelah itu memutuskan akan jalan-jalan ke mana.

Legian

Hari pertama, saya dan istri hanya berkeliling di Legian. Di jalan yang dulu sempat terkenal karena peristiwa Bom Bali ini suasananya sangat hiruk pikuk. Semakin malam, justru semakin ramai karena memang Legian ini terkenal dengan berbagai hiburan malamnya.

Legian

Tidak tertarik dengan hiburan malam, saya dan istri malah memutuskan menjelajahi Poppies Lane. Gang yang menjadi inspirasi bagi salah satu lagu Slank ini adalah pusat para backpacker di Bali. Tipikal wisatawan yang menginap di sekitar Poppies ini adalah wisatawan berbujet rendah. Maka tak heran jika warung makan dan kios yang berjualan barang di sini pun menjajakan barang-barang dengan harga murah.

Monumen Bom Bali

Di Poppies, saya menemukan warung makan yang bisa jadi referensi, warung makan yang murah dan dijamin halal bernama Warung Nusantara. Sajiannya menu-menu Indonesia dan beragam, tapi justru warung ini dipenuhi wisatawan asing. Faktor utamanya mungkin karena menunya yang murah meriah, jika dikonversi dengan Dollar, hanya sekitar 1 hingga 3 US Dollar kisaran harga makanannya. Murah, kan?

Ubud

Hari berikutnya, saya bergeser ke daerah yang lebih sepi, istri saya ingin ke Ubud.

Ubud memang menjadi destinasi favorit kami berdua sejak pertama kali istri saya ajak ke sana tahun 2015. Setelah itu, setiap kali ke Bali, pastilah kami ke Ubud. Entah mengapa, suasana di Ubud lebih sesuai bagi kami. Ya, nuansanya lebih kontemplatif. Jikapun ramai, itu juga ramai orang-orang yang menyukai ketenangan, sama seperti kami berdua.

Ubud sekarang ini seperti ‘Ibu Kota Hippies’. Toko produk organik dan pro-alam semakin banyak, kelas-kelas yoga semakin bertambah, dan toko suvenir etnik semakin menjamur. Ubud juga bisa dikatakan sebagai ‘Ibu Kota Indies’. Hal-hal yang menarik dan anti-mainstream banyak ditemukan di Ubud, mulai dari kedai kopi, hingga toko lampu pijar.

Kami di Ubud akhirnya bisa liburaaaaan

Omong-omong soal kopi, saya mampir ke Seniman Coffee di Ubud. Menurut saya, tempat ini adalah kafe yang menyenangkan. Lokasinya terletak di dalam gang, nuansanya penuh gelak tawa, staf-staf yang hangat, dan interior yang unik.

Saya memesan ice latte untuk menikmati nuansa keakraban di kafe ini, sementara istri memesan jamu yang membuat saya terbelalak. Sebuah paduan yang sebenarnya sulit disatukan, sebuah kafe yang menyajikan jamu, kopi dari mesin espresso, dan jamu dari lesung tumbuk tradisional. Itulah menariknya Seniman Coffee. Memadukan kopi dan jamu, modern dan tradisional, di mana dua hal tersebut berselimut keakraban.

Ngopi di Seniman Coffee
Ngopi di Seniman Coffee

Lepas dari Seniman Coffee saya menuju ke Campuhan Ridge Walk. Dari Seniman Coffee, bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 25 menit. Lokasinya berada di balik keramaian Ubud, jalan menuju lokasi sedikit tersembunyi.

Jika belum familiar, bisa jadi tersasar. Namun, dengan Google Maps pun, sebenarnya bisa ditemukan. Menuju Campuhan Ridge Walk kami harus menuruni turunan, menyeberang sungai, melewati pura, dan mendaki bukit. Cukup melelahkan.

Sebenarnya, Campuhan Ridge Walk merupakan jalan setapak sepanjang kira-kira 1,5 kilometer yang membelah Bukit Campuhan. Satu hal yang membuat kami menyukai tempat ini adalah suasananya yang sangat tenang. Hanya terasa hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan hijau sejauh mata memandang.

“Enak kali ya yoga di sini?” Kata istri

“Ya, enak kalau pagi.” Jawab saya

Bagi pencinta ketenangan, tempat ini memang cocok sekali. Bahkan, saya bertemu dengan turis mancanegara yang sedang melakukan meditasi di antara rimbun rerumputan di sini.

Selebihnya, ya, beberapa remaja tanggung yang sedang berpacaran, sembunyi-sembunyi di balik rerumputan.

Kami berada di sini sampai senja, setelah itu, kembali ke keramaian Ubud. Selepas senja, kami berkeliling dan mencari salah satu tempat makan yang unik di Ubud, Juno’s. Lokasi restoran ini berada di tengah pedesaan yang sepi. Bangunannya mengingatkan saya pada rumah suku Indian. Berbentuk bulat dengan atap kerucut runcing.

Resto Juno’s Ubud

Pengunjung yang masuk ke restoran harus menanggalkan alas kakinya. Di tengah restoran, terdapat ruang kosong. Ketika saya masuk sedang ada pengunjung yang berdansa di tengah restoran. Banyak orang yang mencari ketenangan di restoran ini. Setiap orang seperti didesain memiliki privasinya sendiri di restoran ini. Menenangkan.

Makanannya pun lezat. Restoran ini menyajikan berbagai ragam sajian dan beberapa di antaranya adalah berbahan organik. Pilihan menunya banyak, jadi pengunjung bisa leluasa memilih.

Interior Juno’s Ubud

Puas makan malam, kami kembali ke penginapan dengan motor sewaan. Di Bali, paling enak berkeliling dengan menyewa motor matic, harganya murah dan mudah ditemui. Di pinggir jalan semisal di Denpasar, Legian, Jimbaran bahkan Ubud, terpajang papan nama rental motor berderetan. Harga sewanya pun sangat murah, antara 60 hingga 100 ribu rupiah dengan kondisi motor yang bagus.

Sisa hari berikutnya kami cukupkan dengan bersantai di penginapan. Liburan yang impulsif tapi tidak ambisius. Kami memang berlibur tanpa persiapan, tapi bukan berarti kami tidak menikmati liburannya. Justru tanpa persiapan, kami bisa melakukan sesuatu tanpa ketergesaan, tidak ada yang dikejar dan tiada yang mengejar. Yang berkuasa terhadap ritme liburan kami adalah kami sendiri.

Beberapa hari di Bali, ternyata cukup mengisi ulang jiwa kami berdua. Balada kesalahan membeli tiket yang tuntas dalam hitungan menit dengan Easy Reschedule oleh Traveloka hingga suasana Ubud yang selalu membuat kami jatuh cinta membuat hidup kami semakin berwarna.

Tabik

 

Follow Efenerr on WordPress.com

21 KOMENTAR

  1. Seneng yah kalo mau liburan bisa implusif dan langsung terealisasi gitu, mau agendakan pergi ke ubud juga ah, kayaknya disana banyak inspirasi kreatif dari tempat-tempat baru..

  2. semakin di beri kemudahan dalam reschedule tiket oleh traveloka jadi pingin jalan jalan mulu.karena yang dadakan pasti memberi cerita dan keseruan tersendiri ya bang

  3. jarang ada orang indonesia yang bisa cocok dengan suasana ubud. karena memang ubud sangat asri dan tenang, dan itulah kelebihanya. jika berada lebih dalam memahami ubud adalah sebuah kota dengan desa didalamnya dimana adat dan budayanya masih sangat kental ditambah sebagai kota seni dimana tarian, tradisi, hingga kesenian pahat, lukisan dan kerajinan dikombinasikan dengan modernisasi seakan terlahir dan mengalir disetiap individu penduduk setempat sehingga suasana tinggal di ubud serasa sangat terasa berada di bali.

    salah satu tempat di ubud yang mungkin bisa referensi buat kopi santai mungkin bisa dibali pulina, tempatnya nyaman sekali dan terlebih pemandangan sawahnya bagus.

    kalo mau kesana atau ubud sekitarnya memang baiknya pake motor, sangat asik dan seru, tapi perlu di ingat, untuk masalah administrasi agak lebih sulit disana. aturanya yang sulit diverfikasi adalah kepercayaan sesama indonesia karena alasan keamanan. jadi sebaiknya memang langsung bawa dari luar ubud seperti langsung dari kuta, prosesnya lebih cepat dan mudah. karena memang dikuta sangat banyak persewaanya. buat referensi mungkin bisa coba sewamotordikuta.com

  4. Sewa Mobil Lepas Kunci di Bali mulai Rp. 170rb / 24 Jam
    Mobil yang kami sediakan dijamin bersih, terawat, anda bisa memilih mobil sesuai kebutuhan anda mulai dari sewa mobil

    setir sendiri (lepas kunci), sewa mobil dengan sopir . Kami berkomitmen memberikan harga termurah tanpa mengurangi

    kualitas pelayanan kami.

    +6282144395183(Mobile)
    +6281999159481 (WhatsApp)

    http://www.balimobillepaskunci.com

  5. Kecehhhhh..
    Saya juga ada plan ke Bali dengan ortu untuk liburan..
    Sedang baca review2.. karena kalo bawa ortu kayanya course nya ga bisa padat beda kalo pergi sendiri..

    Kalo nginep di daerah kuta sekarang udh banyak banget tempat makan yg Moslem friendly kan ya Mas?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here