Sabtu kemarin saya ke Surabaya. Di samping memang saya impulsif, kebetulan ada teman yang mengundang. Jadilah saya berangkat tanpa tujuan khusus, kecuali undangan teman saya itu.

Perjalanan tanpa tujuan begini selalu menyenangkan.

Saya tanya, “Mau ngapain di Surabaya?”

Teman ternyata mengajak hunting foto. Wah cocok, sudah lama juga tidak ke Surabaya buat senang-senang. Karena tidak ada rencana khusus, mungkin saya hanya satu hari saja di Surabaya. Berangkat pagi dengan pesawat pertama, lalu pulang dengan pesawat paling malam.

Karena mepet sekali, saya menggunakan Traveloka yang praktis. Akhir-akhir ini, saya memang lebih sering menggunakan Traveloka karena harganya relatif lebih murah. Selain itu, ada program Loyalty Points yang bisa saya manfaatkan. Ya, betul. Saya mau untung sebanyak-banyaknya.

Bicara soal Traveloka poin sih saya pertama kali tahu dari teman yang punya banyak poin karena sering banget traveling. Dia bilang kalau punya Traveloka App dan sudah login sebagai member, saya pasti punya poin terkumpul dari pemesanan tiket pesawat dan hotel lewat aplikasinya.

Dipikir-pikir, berarti saya punya poin karena sudah jadi member di aplikasi Traveloka selama ini? Benar saja. Poin saya cukup banyak dan bisa ditukar untuk membeli tiket pesawat maupun booking hotel.

Sambil tertawa, teman saya bilang, “Mending pakai saja poin itu secepatnya, jangan sampai nyesal karena poin itu hanya berlaku satu tahun!”

Mengingat rencana dadakan ke Surabaya, saya putuskan saja untuk menggunakan poin ini. Menurut saya, langkah-langkahnya mudah. Saya hanya perlu memilih maskapai dan jadwal, isi data diri, pilih metode pembayaran, lalu akan muncul tulisan “Redeem”. Akhirnya, tiket pulang pergi Jakarta – Surabaya bisa saya issued.

Saat dini hari, saya sudah di bandara. Penerbangan ke Surabaya yang pertama hanya selisih beberapa menit dari waktu Subuh. Saya selalu suka penerbangan pagi karena pemandangan indah di atas awan yang tak tergantikan. Pesawat melewati beberapa gunung menjulang yang menembus awan. Saya pun melihat matahari berwarna oranye kemerahan di atas awan, pertanda fajar telah mengantar pagi.

Sudah setahun lebih saya tidak ke Surabaya. Begitu mendarat, saya langsung mendengar percakapan Suroboyo-an yang selalu membuat saya tergelak. Dari bandara, saya segera menuju ke pusat kota yang menjadi meeting point dengan teman saya. Jalanan lengang di akhir pekan, mungkin karena masih pagi.

Surabaya adalah kota yang menyenangkan. Jalanannya luas dan rapi. Taman-taman pun bersih. Kota ini sungguh memikat karena memiliki banyak bangunan tua yang masih terawat dan sekat antar bagian kota yang tampak simetris.

Satu lagi kelebihannya adalah orang-orang yang murah senyum. Damai pokoknya.

Berjumpa dengan teman di daerah Tugu Pahlawan, saya lalu diajak ke Kampung Lawas Maspati. Tempat ini adalah salah satu kampung kuno yang cukup terkenal. Oleh karena itu, pemerintah kota membangun kampung ini sebagai kampung wisata andalan Surabaya.

Rumah-rumah yang berada di kampung ini sungguh bagus untuk difoto. Kebanyakan adalah peninggalan rumah Belanda yang konon berdiri sejak awal ke-19.  Kampung Maspati sendiri sejarahnya begitu panjang. Jika dijabarkan bisa berujung era pasca Majapahit.

Lorong-lorong kampung dicat warna-warni. Masing-masing rumah mungil yang ada di lorong memiliki kekhasan sendiri. Yang menarik menurut saya adalah muka bangunan yang kaku khas rumah zaman dahulu.

Satu yang khas lagi dari kampung ini adalah lorong-lorongnya mirip labirin yang rumit. Satu lorong besar terkoneksi dengan lorong kecil dan lorong kecil terkoneksi dengan lorong kecil lainnya. Jika tidak hafal dengan penempatan lorong, bisa jadi masuk di lorong satu keluar di lorong yang lain.

Puas melewati lorong demi lorong, tak terasa waktu sudah lewat tengah hari. Saya diajak untuk makan siang. Awalnya ingin ke Madura demi sepotong Bebek Sinjai, tapi mengingat sabtu adalah akhir pekan dan pasti antreannya panjang. Akhirnya, saya makan di Bebek Sinjai yang ada di Surabaya.

Saya sempat ragu dengan Bebek Sinjai di kota ini. Sebelumnya, saya memang pernah makan Bebek Sinjai yang ada di Madura. Kelezatannya memang tak tertandingi, sebanding dengan antreannya. Setelah mencicipi makanan saya, ternyata yang di Surabaya ini juga rasanya sama, sangat lezat. Tandas sudah satu porsi Bebek Sinjai.

Ada satu hal lagi yang tidak bisa dilupakan di Surabaya, sambal Bu Rudy. Untuk oleh-oleh istri di rumah, saya menyempatkan mampir demi sebotol sambalnya. Saya belum pernah ke tokonya karena saya kira adalah produk homemade. Di Surabaya, ternyata sudah berdiri toko yang besar dengan beragam produk sambal andalan Bu Rudy.

Usai membeli sambal ini, jalan-jalan sehari di Surabaya pun berakhir. Berawal dari jalan-jalan tanpa rencana, malah berujung mendapatkan beberapa cerita menarik dan oleh-oleh buat sang istri. Kadang memang rasa bosan harus dibasmi, jadi jalan-jalan satu hari penuh di Surabaya merupakan pelarian yang tepat.

Keputusan menggunakan Loyalty Points Traveloka pun sama tepatnya. Saya hanya perlu menukarkan poin dengan tiket pesawat PP.  Ibarat kata, saya tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk jalan-jalan kali ini. Kalau begini ceritanya, saya rasa bisa travel terus. Let’s go!

Tabik. 

Follow Efenerr on WordPress.com

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here